Rabu, 13 Februari 2013

Dongeng Asal Mula Selat Bali (Bagian Terakhir)

Di bawah ini adalah kisah, cerita rakyat, atau dongeng asal mula Selat Bali bagian terakhir. Bagi Anda yang ingin membaca bagian pertama, dapat membacanya di sini. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Tak lama kemudian, utang Manik Angkeran pun menumpuk lagi. Untuk minta bantuan kepada ayahnya ia tak berani. Oleh karena itu, ia bertekad untuk mencari sumber harta itu sendiri. Dari beberapa orang kawannya, ia mendapatkan keterangan bahwa Begawan Sidi Mantra mendapatkan harta kekayaan di sebuah gunung di sebelah timur bernama Gunung Agung. Kemudian Manik Angkeran merengek-rengek, merayu ibunya agar memberitahukan rahasia ayahnya mendapatkan harta di Gunung Agung.

Mula-mula sang ibu merasa keberatan. Ia adalah istri yang setia. Tak mungkin ia berani mengkhianati suaminya. Namun Manik Angkeran hampir setiap hari merayunya.

Sang ibu akhirnya terpengaruh. Ia yang sudah diberitahu oleh suaminya tentang cara mendapatkan harta di Gunung Agung segera bercerita tanpa sepengetahuan suaminya.

"Tapi tunggu dulu beberapa hari lagi...."

"Ah, ibu... orang-orang terus mengejar saya untuk menagih hutang saya. Sejauh ini mereka sudah kuminta untuk tidak datang ke rumah ini. Tapi lama-lama jika saya tidak segera menemui mereka pastilah mereka menagih kemari."

"Ya Manik, tapi kita harus menunggu ayahmu berpergian lebih dulu. Aku tak bisa mengambil genta ajaib itu bila ayahmu masih berada di rumah."

"Yahhh, terus bagaiman ibu?"

"Terpaksa harus menunggu...," desah ibunya.

Kebetulan esok harinya Begawan Sidi Mantra berpergian ke desa lain untuk memberikan ceramah agama. Pada saat itulah sang ibu dan anak beraksi. Diambilnya genta ajaib dari tempat pusaka. Lalu diberikan genta itu pada Manik Angkeran.

"Dengan genta ajaib inilah ayahmu memanggil Naga Besukih untuk mendapatkan sisik emasnya," kata sang ibu.

Manik Angkeran pun berangkat ke timur setelah membawa genta ayahnya. Setibanya di Gunung Agung, Manik Angkeran membunyikan genta ayahnya. Naga Besukih merasa terpanggil oleh bunyi genta itu. Tetapi ia merasa heran tidak mendengar mantra yang diucapkan. Sang Naga Besukih segera muncul. Dilihatlah Manik Angkeran datang membawa genta ayahnya. Menyaksikan hal ini, Naga Besukih sangat marah.

"Hai, Manik Angkeran, ada apa kamu memanggil aku dengan genta ayahmu?"

"Sang Naga Besukih, aku menghadapmu untuk mohon bantuan memberikan harta, agar aku bisa membayar utang-utangku. Kalau kali ini saya tidak membayar utangku, aku akan dibunuh oleh orang-orang tempatku berutang. Kasihanilah aku," kata Manik Angkeran.

"Kenapa aku harus menolongmu?" kata Naga Besukih.

"Karena aku anak sahabatmu."

"Tapi kau anak yang kurang ajar!"

"Aku... berjanji hanya sekali ini saja...."

"Janji pejudi apa bisa dipercaya?"

"Aku bersumpah tidak akan main judi lagi!"

"Benarkah?"

"Demi langit dan bumi, demi Gunung Agung!" kata Manik Angkeran meyakinkan.

"Aku hanya ingin dibantu sesuai jumlah hutangku saja... setelah bayar hutang, aku akan berbakti kepada ayah dan ibu. Mendalami ilmu agama agar lebih dekat dengan Sang Hyang Widhi. Tapi, kalau kau tak mau menolongku, ya sudahlah...," ujar Manik Angkeran dengan kesedihan yang mendalam.

Menyaksikan kesedihan Manik Angkeran, Naga Besukih merasa kasihan. Ia pun berjanji membantu Manik Angkeran. Setelah memberikan nasihat panjang lebar, Naga Besukih membalikkan tubuhnya untuk mengambil harta yang akan diberikan kepada Manik Angkeran.

Pada saat itu, ekor Naga Besukih masih berada di permukaan tanah, sedangkan kepala dan tubuhnya masuk ke dalam bumi. Melihat ekor Naga Besukih penuh dengan intan berlian besar-besar, timbullah maksud jahat Manik Angkeran. Ia menghunus kerisnya lalu memotong ekor Naga Besukih.

Naga Besukih meronta dan membalikkan tubuhnya. Akan tetapi, Manik Angkeran telah pergi. Naga Besukih mengejar Manik Angkeran, tetapi tidak dijumpai. Yang dijumpai hanyalah bekas tapak kakinya. Dengan kekuatan yang luar biasa, Naga Besukih menyedot telapak kaki Manik Angkeran.

Ajaib tiba-tiba tubuh Manik Angkeran berada di hadapan Naga Besukih.

"Anak kurang ajar! Tak tahu diri!" teriak Naga Besukih dengan marah dengan sepasang mata menyala-nyala.

Manik Angkeran gemetar ketakutan. Tak disangka ia yang sudah berlari demikian jauh tiba-tiba tersedot kekuatan gaib dan berada di hadapan sang Naga Besukih.

"Ampun... ampun Naga...."

"Kamu tak bisa diampuni lagi. Harus diberi pelajaran!"

Lalu Naga Besukih menyemburkan hawa napas bercampur racun dari mulutnya ke arah tubuh Manik Angkeran. Dan tubuh Manik Angkeran terlempar beberapa meter dan seketika tubuhnya terbakar hangus menjadi abu.
Dongeng Asal Mula Selat Bali (Bagian Terakhir)
Dongeng Asal Mula Selat Bali (Bagian Terakhir)
Di Blambangan Begawan Sidi Mantra sedang gelisah karena anaknya menghilang. Genta pemujaannya pun tidak ada di tempatnya. Sang istri segera menceritakan apa yang telah dilakukannya.

"Aduh celaka istriku! Aku harus segera menyusul Manik," kata Sang Begawan.

Sang Sidi Mantra dapat memastikan anaknya pergi ke Gunung Agung untuk mencari harta.

Seketika itu, berangkatlah Begawan Sidi Mantra menuju Gunung Agung. Sesampainya di sana, dilihatnya Naga Besukih sedang berada di luar istananya. Dengan tergesa-gesa Begawan Sidi Mantra menegur Naga Besukih.

"Hai sang Besukih, adakah anakku Manik Angkeran datang kemari?"

"Ya, ia telah datang kemari untuk minta harta guna melunasi utang-utangnya. Ketika aku membalikkan tubuhku hendak mengambilkan harta, ia memotong ekorku karena tergiur intan berlian yang besar-besar di ekorku. Aku telah membakarnya sampai musnah, karena anakmu tak tahu membalas budi. Sekarang apa maksud kedatanganmu Begawan Sidi Mantra?"

"Maafkanlah aku sang Besukih! Anakku cuma satu. Karena itu aku mohon kepadamu agar anakku dihidupkan kembali!"

"Untuk apa?"

"Dia tetap anakku...."

"Tapi dia benar-benar kurang ajar!"

"Aku tahu aku teledor, membiarkan ibunya memanjakannya. Tapi sekarang aku akan mendidiknya dengan sungguh-sungguh! Aku yakin dia akan menjadi anak yang baik."

"Kau yakin...?"

"Yakin sekali... kukira dia telah mendapatkan pelajaran setimpal atas kesalahannya. Kau telah menghukumnya. Ini akan membuatnya jera. Maka hidupkanlah anakku lagi."

"Demi persahabatan kita aku akan memenuhi permintaanmu, tetapi aku minta agar ekorku dikembalikan seperti semula."

"Baiklah, aku pun akan memenuhi permintaanmu."

Dengan mengarahkan kekuatan batin masing-masing, Manik Angkeran pun hidup kembali. Demikian pula ekor Naga Besukih utuh seperti semula.

Setelah memberi nasihat panjang lebar kepada anaknya, Begawan Sidi Mantra pulang ke Blambangan Jawa Timur. Manik Angkeran tidak dibolehkan ikut serta. Ia disuruh tinggal di sekitar Gunung Agung. Karena sudah sadar akan kekeliruannya, Manik Angkeran tunduk kepada perintah orang tuanya.

"Jangan pernah kembali ke Blambangan. Jika kau kembali ke sana kau pasti bertemu dengan kawan-kawanmu yang penjudi."

"Saya sudah kapok ayah. Saya benar-benar sudah bertobat sekarang."

"Baiklah kalau begitu, ayah akan kembali ke Blambangan."

Begawan Sidi Mantra berjalan menuruni lereng Gunung Agung. Hatinya masih merasa was-was, jangan-jangan anaknya akan menyusul ke Blambangan.

"Harus ada sesuatu yang menghalanginya ke Blambangan," gumam sang Begawan.

Ketika Begawan Sidi Mantra tiba di sebuah tanah genting, ditorehkannya tongkatnya ke tanah. Seketika bekas torehan itu bertambah lebar dan air laut naik menggenanginya. Kemudian terjadilah sebuah selat, yang sekarang dinamai Selat Bali.

Demikianlah kisah, cerita rakyat, atau pun dongeng bagian terakhir dari asal mula terjadinya Selat Bali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar