Senin, 29 Oktober 2012

Dongeng Asal Mula Banyuwangi

Di bawah ini adalah sebuah kisah (dongeng) asal mula dari nama Banyuwangi, salah satu kabupaten di Jawa Timur. Selamat membaca:

Di pantai Timur Pulau Jawa ada sebuah kerajaan yang diperintah Prabu Menak Prakosa. Ia mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Sri Baginda tersebut mempunyai seorang anak laki-laki yang gagah, cakap, dan bagus parasnya. Nama anak raja tersebut adalah Raden Banterang.

Raden Banterang menjadi putera mahkota yang kelak menggantikan ayahnya sebagai raja. Ia, Raden Banterang sangat dicintai dan dihormati rakyatnya. Sayangnya, ia mudah marah, bahkan sering memberikan hukuman yang berat kepada rakyatnya bila tidak mengikuti perintahnya.

Pada suatu hari, Raden Banterang berburu binatang dengan disertai beberapa pengiringnya. Dalam perburuan tersebut, Raden Banterang berpisah dengan pengiringnya. Ia berjalan seorang diri dan sampailah ia di sebuah sungai. Di tepi sungai tersebut, terlihatlah seorang gadis cantik sedang memetik bunga. Raden Banterang sangat tertarik oleh kecantikannya.

Ia bertanya dalam hati, "Mimpikah aku ini? Mengapa gadis cantik itu seorang diri dalam hutan?"

Bertanyalah Raden Banterang kepada gadis tersebut, "Wahai, puteri yang cantik. Manusia atau dewikah? Mengapa tuan puteri berada di tempat ini seorang diri?"

Gadis itu sangat terkejut, ia tidak menyangka akan ada orang lain yang mengetahuinya. Gadis cantik itu pun lalu menjawab, "Saya manusia biasa, sama sekali bukan dewi. Saya berada di sini karena takut akan serangan musuh. Beberapa waktu lalu kerajaan kami diserang oleh kerajaan lain. Ayah saya gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan. Sejak saat itu saya mengembara seorang diri sampai di tempat ini."

"Benarkah tuan puteri adalah puteri Raja Klungkung?" tanya Raden Banterang. "Benar, yang tuan katakan. Saya adalah Surati puteri raja Klungkung yang gugur itu."

Raden Banterang diam beberapa saat, ia tahu bahwa yang menyerang kerajaan Klungkung adalah ayahnya sendiri. Mendengar berita tersebut rasa iba tumbuh dalam hati Raden Banterang. Selanjutnya puteri Raja Klungkung yang bernama Surati dibawa ke istana. Tidak berapa lama kedua putera raja tersebut menikah.

Rakyat gembira sekali karena Raden Banterang mendapat isteri yang benar-benar elok dan baik budi pekerti. Berkat keluhuran budi Surati, sifat pemarah yang ada pada diri Raden Banterang berangsur-angsur hilang. Suatu saat tatkala Surati berjalan-jalan di luar istana, bertemulah dengan seorang laki-laki yang pakaiannya compang-camping.

Laki-laki itu berteriak, "Surati! Surati!"

Alangkah terkejutnya Surati mendengar teguran itu. Dipandangnya lama sekali laki-laki tersebut. Akhirnya, ingatlah bahwa laki-laki itu adalah kakak kandungnya. Sama sekali ia tidak menyangka bahwa kakaknya masih hidup.

Jawab Surati, "Aduh, kakanda tercinta! Adinda tidak menyangka saat ini dapat berjumpa dengan kakanda. Adinda menyangka bahwa kakanda telah gugur bersama ayahanda. Kiranya Tuhan masih memberi perlindungan kepada kita berdua."

"Surati! Engkau tidak tahu malu mau diperisteri oleh orang yang telah membunuh ayah kita. Sekarang saya hendak menuntut balas atas kematian ayah kita. Maukah engkau membantuku?"

Jawab Surati, "Maaf kakanda, adinda telah berhutang budi kepadanya. Dia telah menyelamatkan adinda dari penderitaan. Maaf, sekali lagi, adinda tidak dapat mengabulkan permintaan kakanda."

Si kakak kandung nampak kecewa dengan jawaban Dewi Surati.
Dongeng Asal Mula Banyuwangi
Dongeng Asal Mula Banyuwangi
Pada suatu hari, Raden Banterang sedang berburu, tatkala sedang mengejar kijang, datang seorang pengemis mendekatinya. Kata pengemis tersebut, "Tuanku Raden Banterang, sejak tadi hamba mencari Tuanku. Tuanku terancam oleh bahaya maut yang direncanakan oleh permaisuri Tuanku. Tadi pagi hamba mendengar percakapan permaisuri Tuanku dengan kakak ipar Tuanku tentang rencana mereka untuk menuntut balas kematian ayahnya. Kalau tidak percaya, di bawah peraduan permaisuri ada sebilah keris pusaka." Setelah berkata demikian, pengemis itu menghilang. Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan pengemis tersebut.

Bergegaslah pulang Raden Banterang ke istana. Sesampai di istana, ia langsung menuju peraduan permaisuri untuk meyakinkan benar tidaknya keterangan pengemis. Alangkah panas hati dan kecewanya Raden Banterang, karena yang diceritakan pengemis tadi benar, di bawah peraduan Puteri Surati ditemukan senjata pusaka kerajaan Klungkung.

Kemarahan Raden Banterang tak bisa ditahan. Diajaknya isterinya ke muara sebuah sungai. Sesampai di muara sungai, Raden Banterang menceritakan semua yang didengarnya dari seorang pengemis tatkala sedang berburu di hutan.

Raden Banterang menanyakan dengan nada kemarahan, "Itukah balasanmu kepada kebaikanku?"

Jawab permaisuri, "Adinda berani bersumpah, sekali-kali adinda tidak melakukan seperti yang kakanda tuduhkan."

"Diam, pendusta!", gertak Raden Banterang sambil memperlihatkan keris yang ditemukan.

"Kakanda Raden Banterang! Itu memang pusaka ayahanda Raja Klungkung. Tapi demi Dewata Yang Agung, pusaka itu hanya dipegang oleh kakak hamba. Hamba tidak mengerti mengapa sekarang berada di tangan kakanda Raden Banterang. Adinda berani bersumpah bahwa hamba adalah isteri yang setia. Memang kakak adinda datang menemui adinda, tetapi hanya sampai di pintu gerbang istana. Dia minta agar adinda mau membantu kakak dalam melaksanakan niatnya menuntut balas atas kematian ayah kami. Tetapi permintaannya itu adinda tolak."

Raden Banterang tetap tidak percaya atas keterangan isterinya. Ia yakin, isterinya termasuk salah seorang yang menaruh dendam. Maka dihunusnya keris yang terselip di pinggangnya.

"Baiklah jika kakanda... jika kakanda tidak mempercayai adinda maka adinda bersedia menemui ajal di sungai ini. Tetapi harap kakanda camkan, bahwa jika nanti sungai ini berbau wangi berarti adinda tidak bersalah, jika sungai ini berbau busuk memanglah adinda bersalah."

Sebelum keris itu ditikamkan kepada isterinya, Surati melompat ke sungai lalu menghilang. Raden Banterang berseru dengan suara yang gemetar, "Banyuwangi...! Isteriku tidak berdosa."

"Banyuwangi...!" teriak seorang pengemis hampir bersamaan. "Hai, Raden Banterang! Aku adalah kakaknya. Isterimu memang tidak berdosa. Ia menolak membantuku untuk membunuhmu. Banyuwangi..., itulah tanda cinta sucinya."

Setelah selesai berkata, pengemis itu pun menghilang. Raden Banterang terburu nafsu tanpa menyelidikinya dengan cermat. Ia kecewa, ternyata perbuatannya membawa maut bagi permaisuri tercinta. Sampai sekarang tempat permaisuri menghilang dalam dasar sungai disebut Banyuwangi. Banyu artinya air, dan wangi berarti harum.

Rabu, 24 Oktober 2012

Dongeng Asal Mula Upacara Kasada

Di bawah ini adalah dongeng asal mula Upacara Kasada yang sampai saat ini masih dilakukan oleh masyarakat Tengger di sekitar gunung Bromo, Malang. Selamat membaca:

Dahulu hiduplah satu keluarga yang tenteram. Suami isteri tersebut bernama Ki Seger dan Nyai Anteng. Mereka berdua suami isteri hidup rukun. Tidak pernah terlintas kemurungan maupun kesedihan dalam wajah mereka. Sungguh mereka merasakan nikmat dan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa.

Mereka bekerja bersama mengolah tanah untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Keadaan alam sekitar tempat tinggal suami isteri tersebut sangatlah menyenangkan. Udara bersih, tanah subur, air sungai mengalir dengan bersihnya. Memang suasana alam pun ikut membantu kedamaian hidup suami isteri. Hari-hari telah dilalui dengan cepat. Usia pun merambat dengan cepat.

Kebahagiaan dan kedamaian telah dilalui mereka. Barulah mereka tersentak dan sadar bahwa mereka pun merasakan kesepian tanpa kehadiran anak sampai usia senja. Keinginan mereka mempunyai anak semakin besar. Mereka menempuh jalan dengan cara bersemedi agar mendapatkan anak. Setiap hari mereka berdoa di kaki gunung Bromo. Karena doa dan tapa tiada henti setiap hari, akhirnya doa mereka pun dikabulkan oleh Dewa Brahma.

Pada saat bertapa, Nyai Anteng mendengar suara bahwa kelak ia akan melahirkan dua puluh lima orang anak, asal anak pertama harus dikorbankan. Saat itu Nyai Anteng menyatakan kesedihannya. Yang penting segera dikarunai anak. Waktu terus berjalan, apa yang didengar waktu bersemedi menjadi kenyataan. Nyai Anteng hamil. Mereka berdua merasa senang dan bahagia karena anak yang didambakan akhirnya akan datang juga.

Setelah genap bulannya, Nyai Anteng melahirkan seorang anak laki-laki. Anak tersebut diberi nama Kusuma. Bayi tersebut tumbuh dengan cepatnya. Badannya sehat dan lagi wajahnya sangat tampan. Mereka memelihara anak dengan penuh kasih sayang. Anak Nyai Anteng pun genaplah berjumlah 25 orang anak. Mereka hidup dengan penuh kegembiraan dan ketenteraman. Sampai-sampai Nyai Anteng dan Ki Seger lupa akan janjinya.

Meski lama tenggang waktunya, namun janji tetaplah janji. Pada saatnya akan ditagih juga. Gunung Bromo mulai memberi tanda-tanda peringatan. Suara gunung Bromo gemuruh, asap berkepul-kepul. Nyai Anteng dan Ki Seger pun teringat akan janjinya. Perasaan sedih dan sesal meresahkan hati mereka. Bagaimana mungkin mereka akan tega melemparkan anak kesayangan ke kawah gunung Bromo? Mereka berdua berusaha menghilangkan perasaan sedih. Seandainya dapat diganti persembahan kepada dewa di gunung Bromo bukan anaknya melainkan dirinya. Hal itu tak mungkin terjadi. Dewa menghendaki anaknya yang sulung, bukan dirinya yang sudah tua.
Dongeng Asal Mula Upacara Kasada
Dongeng Asal Mula Upacara Kasada
Dari hari ke hari Nyai Anteng semakin menderita tekanan batin, karena harus menyerahkan anak sulung yang paling tampan dan paling disayang. Sementara gunung Bromo semakin bereaksi terus, letusan-letusan mulai terjadi, lelehan lahar pun dengan derasnya. Saat itu pun Nyai Anteng bermimpi bahwa Dewa Brahma menagih janji. Bila tidak ditepati, kedua puluh lima anaknya sekaligus akan diminta secara paksa.

Selesai mendengar ucapan Dewa Brahma, terbangun Nyai Anteng dari tidurnya. Ia tidak dapat berbicara, ia hanya menangis terus, teringat akan mimpinya.

Kusuma - anak sulungnya yang sudah menginjak dewasa melihat ibunya sedih terus setiap hari. Maka bertanyalah Kusuma kepada ibunya, "Mengapa ibu nampak sedih? Apakah boleh ananda mengetahui sebab musababnya, ibu?"

Jawab Nyai Anteng, "Anakku, Kusuma! Ibumu harus mengorbankan engkau di kawah gunung Bromo. Ibumu tidak sampai hati untuk melemparkan dirimu, nak! Apabila tidak, semua saudaramu dan engkau akan diambil secara paksa oleh Dewa Brahma."

Mendengar kata-kata ibunya, Kusuma tertegun diam seribu bahasa. Hatinya sedih, namun kemudian ia berkata, "Sudahlah, bu! Hilangkah perasaan hati ibu. Saya bersedia menjadi korban demi ayah ibu, adik-adik serta keselamatan orang-orang Tengger pada umumnya. Saya rela menjadi korban, bu!"

Begitu terharu mendengar kata-kata anaknya hingga sang ayah dan ibunya jatuh pingsan. Pada hari yang telah ditentukan, dibawalah Kusuma ke kawah gunung Bromo. Ia diserahkan sebagai korban. Kemudia ia dilemparkan ke kawah gunung Bromo dengan disaksikan oleh orang-orang di sekitar kaki gunung Bromo.

Kurban Kusuma oleh Nyai Anteng dan Ki Seger diterima oleh dewa. Sejak peristiwa itu gunung Bromo tidak lagi terdengar suara gemuruh. Jadilah gunung Bromo tenteram, tenang kembali seperti semula. Petani mulai mengerjakan sawah dengan tenteram dan aman. Demikian juga Nyai Anteng dan Ki Seger serta kedua puluh empat anaknya hidup dengan tenang.

Sampai kini masyarakat Tengger mengadakan upacara korban di bawah gunung Bromo untuk menghormati roh Kusuma, namun yang dijadikan korban bukan lagi manusia melainkan berupa sesaji kepala kerbau dan hasil panen lainnya.

Senin, 22 Oktober 2012

Kisah Qabil dan Habil

Adam dan Hawa sebagai suami isteri, sebagai manusia pertama dan sebagai nenek-moyang kita, hidup rukun bersama. Tiap kali melahirkan, Siti Hawa selalu beranak kembar yang terdiri dari laki-laki dan perempuan sampai sepuluh kali. Pada kehamilan yang kesebelas yakni yang terakhir, Siti Hawa hanya melahirkan satu anak laki-laki yang diberi nama Syits, yang kemudian menjadi Nabi. Dengan demikian, anak-anak mereka berjumlah dua puluh satu, terdiri atas sepuluh perempuan dan sebelas laki-laki. Di bawah asuhan ayah ibunya yang penuh cinta kasih, tumbuhlah anak-anak mereka dengan cepatnya. Nabi Adam dan Hawa tidak membeda-bedakan kasih sayang di antara anak-anaknya.

Ketika menginjak usia dewasa, Allah swt. memberi petunjuk kepada Nabi Adam a.s. agar mengawinkan putra-putrinya. Qabil dikawinkan dengan adik Habil yang bernama Labuda sedang Habil dikawinkan dengan adik Qabil yang bernama Iqlima. Inilah syariat yang telah ditentukan Allah swt. Cara ini disampaikan Nabi Adam a.s. kepada putra-putrinya, namun Qabil menolaknya mentah-mentah. Ia tidak mau dikawinkan dengan Labuda yang berwajah tidak secantik adiknya sendiri yaitu Iqlima.

Ini adalah perselisihan pertama kali yang melahirkan permusuhan dan pertumpahan darah. Ini adalah bukti kebenaran firman Allah swt. ketika Adam terusir dari surga bahwa akan terjadi perselisihan dan permusuhan di antara anak cucu Adam. Dan ternyata Qabil telah termakan bujukan Iblis, ia lebih menurutkan hawa nafsu dari pada akalnya. Ia tidak mau menerima syariat yang ditetapkan Nabi Adam a.s.

Nabi Adam a.s. adalah ayah yang bijaksana. Ia terus menasehati Qabil agar menerima keputusan yang berasal dari Allah swt., namun Qabil tetap menolak. Akhirnya Adam memerintahkan kepada Qabil dan Habil mempersembahkan qurban. Biarlah Allah sendiri yang akan menentukan masalah itu. Maka dengan disaksikan seluruh anggota keluarga Adam, Qabil dan Habil mempersembahkan qurban di atas bukit. Qabil mempersembahkan hasil pertaniannya, ia sengaja memilih hasil gandum dari jenis yang jelek. Sedang Habil mempersembahkan seekor kambing terbaik dan yang paling ia sayangi. Dengan berdebar-debar mereka menyaksikan dari jauh. Tak lama kemudian nampak api besar menyambar kambing persembahan Habil. Sedangkan gandum persembahan Qabil tetap utuh, berarti qurbannya tidak diterima. Qabil pun sangat kecewa melihat kenyataan itu. Ia terpaksa menerima keputusan itu. Padahal hatinya tetap tidak mau menerimanya. Maka berlangsunglah perkawinan itu. Qabil dengan Lubada dan Habil dengan Iqlima.
Kisah Qabil dan Habil
Kisah Qabil dan Habil
Hari-hari berlalu, iblis datang merasuki pikiran Qabil. Ia membisikkan sesuatu bahwa jika Qabil dapat membunuh Habil tentulah ia akan dapat mengawini Iqlima yang cantik jelita. Hal ini terus menerus dilakukan oleh iblis tanpa jemu dan bosan. Pada dasarnya, nafsu Qabil memang ingin memiliki Iqlima maka ia turuti bisikan iblis itu. Pada suatu hari, ketika Habil menggembalakan ternaknya di tempat yang sepi. Jauh dari pemukiman Nabi Adam a.s. dan Hawa, tiba-tiba tanpa setahu Habil, saudaranya itu memukul kepalanya dengan keras sekali maka matilah Habil. Inilah pembunuhan pertama atas umat manusia di bumi. Iblis tertawa kesenangan, ia sudah mempunyai teman. Allah menceritakan hal ini dalam Q.S. al-Maidah ayat 27 - 30.

Setelah Habil mati, Qabil merasa kebingungan. Diguncang-guncangkan tubuh saudaranya itu, tentu saja tak mau bergerak. Lalu ia bawa ke sana kemari. Ia benar-benar kacau, tak tahu harus dikemanakan mayat saudaranya itu. Ia merasa menyesal, air matanya berlinangan.

Pada saat Qabil kebingungan, Allah swt. memberikan ilham melalui burung gagak. Ada dua ekor burung gagak yang berebut hendak mematuk mayat Habil. Burung gagak itu bertarung, salah seekor tewas dalam pertarungan itu. Lalu burung gagak yang masih hidup menggali tanah, burung gagak yang mati ditarik ke dalam tanah dan ditimbunnya. (Lihat Q.S. al-Maidah ayat 31).

Demikianlah riwayat Qabil yang akhirnya dapat menguburkan mayat saudaranya, Habil. Dengan demikian, Qabil menjadi orang pertama yang membunuh sesamanya, sedangkan Habil menjadi orang pertama yang terbunuh sesamanya di muka bumi ini.

Nabi Adam a.s. wafat dalam usia seribu tahun dan setahun kemudian wafat pula isterinya (Hawa). Sebagian riwayat mengatakan bahwa Nabi Adam a.s. dimakamkan di Mekkah, berdekatan dengan makam istrinya. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan, "Sesungguhnya Allah swt. menciptakan Adam pada hari Jumat, dan diturunkan ke bumi pada hari Jumat. Begitu pula ketika Nabi Adam a.s. bertobat kepada Allah swt. setelah memakan buah terlarang pada hari Jumat, dan wafat pada hari Jumat pula."

Sabtu, 20 Oktober 2012

Cara Agar Blog Tidak Turun di Search Engine

Cara Agar Blog Tidak Turun di Search Engine
Cara Agar Blog Tidak Turun di Search Engine. Halo pada kali ini saya kan memposting sebuah pengalaman saya yaitu mencopas artikel blog orang lain ternyata kalo ketauan google bisa menurunkan peringkat kita di search engine apa lagi sekarang google sudah mempunyai algoritma yang canggih yaitu Algoritma Google Panda, namun suatu saat nanti pasti google akan mengupdate Alggoritmanya ke yang lebih canggih lagi. Maka dari itu bagi yang suka copas mending buat artikel sendiri aja seperti saya ini hehe (boong tapi mau insyaf), oleh karena itu saya akan memberi tips bagai mana agar mempunyai inspirasi membuat artikel blog atau postingan blog. Oke langsung saja :
  1. Pertama tentu mencari ide, ide adalah pokok yang akan kita cari. Maka dari itu mending buat artikel tentang pengalaman atau review tentang apa yang pernah anda jalani atau anda coba.
  2. Setelah itu tentu saja tuangkan kedalam tulisan dengan bahsa yang indah biar di sukai oleh search engine tentunya wkwkw.
  3. Jangan terlalu banyak keyword yang di masukan atau di incar cukup salah satu saja.
  4. Maskukan keyword pada gambar dengan tag ALT.
  5. Jangan lupa submit ke search engine dan media sosial biar pengunjung berdatangan.
  6. Terakhir, Selamat Mencoba :)
Terima kasih telah membaca artikel Cara Agar Blog Tidak Turun di Search Engine saya ini semoga bermanfaat bagi anda.

Kamis, 18 Oktober 2012

Kisah Tentang Hikmah Menyantuni Keluarga

Di bawah ini adalah kisah tentang hikmah menyantuni keluarga. Semoga kisah tersebut dapat memberikan hikmah (pelajaran) untuk kita semua. Selamat membaca:

Di suatu pagi hari, Sayyidina Ali Karomallahu Wajhah bertemu dengan Salman al-Farisi, ayah Abdillah.

"Hai ayah Abdillah, bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Sayyidina Ali kepada Salman al-Farisi.

"Memasuki pagi hari ini aku berada di antara empat kesedihan, ya amirul mukminin," jawab Salman al-Farisi.

"Apa saja kesedihan itu?" tanya Sayyidina Ali.

"Pertama sedih memikirkan keluarga yang menuntut makan kepadaku. Kedua sedih memikirkan perintah Allah terhadapku. Ketiga sedih menghadapi bujukan syaitan terhadap ruhku. Dan keempat sedih memikirkan tuntutan malaikat terhadap ruhku," jawab Salman al-Farisi.

Mendengar penuturan Salman, Sayyidina Ali berusaha menenteramkan hati sahabatnya itu.

"Hai ayah Abdillah, bergembiralah. Keempat kesedihan itu justru akan menambah derajatmu," kata Sayyidina Ali.

Kemudian ia menceritakan perjumpaannya dengan Rasulullah saw. beberapa waktu lalu.

"Hai Ali, bagaimana kabarmu pagi ini?" tanya Rasulullah saw.

"Ya Rasulullah, aku berada di antara empat kesedihan. Pertama di rumah tidak ada apa-apa kecuali air. Aku sedih memikirkan keadaan anak-anakku. Kedua aku sedih memikirkan ketaatanku kepada Allah. Ketiga sedih memikirkan akibatku, dan keempat aku sedih memikirkan malaikat pencabut ruh," jawab Ali.

Kemudian Sayyidina Ali meneruskan ceritanya kepada Salman al-Farisi. Saat itu Rasulullah saw. berkata:

"Ketahuilah olehmu Ali, bahwa rezeki para hamba itu ada di tangan Allah sehingga kesedihanmu itu sama sekali tiada gunanya, karena tidak membahayakan dan tidak pula menguntungkan. Hanya saja kau mendapatkan pahala atas kesedihan yang menimpamu itu. Jadilah engkau orang yang bersyukur, taat, dan bertawakkal kepada Allah maka engkau termasuk sahabat-Nya."
Kisah Tentang Hikmah Menyantuni Keluarga
Kisah Tentang Hikmah Menyantuni Keluarga
"Atas apa aku bersyukur kepada Allah?" tanya Ali kepada Rasulullah saw.

"Atas agama Islam," jawab Rasulullah saw.

"Apa yang harus aku kerjakan?"

"Bacalah Laa haula wa laa quwwata illa billahil 'aliyil adzim."

"Lalu apa yang harus aku tinggalkan?"

"Jauhi amarah. Sesungguhnya meninggalkan amarah itu bisa memadamkan murka Allah, memberatkan timbangan, dan menuntun ke surga," jawab Rasulullah.

"Semoga Allah menambah kemuliaanmu, wahai Ali. Sesungguhnya aku ini sedih disebabkan beberapa hal, terutama dalam urusan keluargaku," keluh Salman al-Farisi kemudian.

"Hai Salman, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Barang siapa yang tidak memelihara keluarganya maka ia tidak mendapat bagian surga'."

"Tapi, bukankah Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa pemilik keluarga tidak akan bahagia selama-lamanya?" tanya Salman al-Farisi.

"Hai Salman, bukan itu yang dimaksud Rasulullah saw.," sahut Sayyidina Ali meluruskan maksud hadits Rasulullah saw. itu.

"Jika pekerjaanmu itu halal maka engkau pun bahagia. Surga teramat rindu kepada orang-orang yang susah dan sedih karena memperhatikan barang yang halal," kata Sayyidina Ali menutup pembicaraannya.

Pembicaraan antara Sayyidina Ali dengan Salman al-Farisi ini bersumber dari Sa'id bin al-Musayyab. Dari pembicaraan tersebut bisa diambil hikmah betapa pentingnya menyantuni keluarga itu sebagai tabir dari api neraka.

Selasa, 16 Oktober 2012

Kisah Diciptakannya Hawa Sebagai Pendamping Nabi Adam a.s.

Allah swt. menciptakan Adam sebagai khalifah di muka bumi. Tentunya seorang khalifah harus berilmu pengetahuan yang luas. Oleh karena itu, setelah penciptaannya, Nabi Adam a.s. diajari oleh Allah swt. berbagai macam ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam rangka mengemban amanah Ilahi menegakkan kalimat tauhid di muka bumi.

Allah swt. mula-mula mengajarkan kepada Nabi Adam a.s. nama-nama benda yang dilihatnya, karena itu adalah pengetahuan pokok yang nanti diperlukannya untuk mengatur dan memelihara bumi. Kepada para malaikat, Allah swt. ingin membuktikan kemampuan Nabi Adam a.s. untuk mengatur dan memelihara bumi. Allah swt. berfirman kepada para malaikat, "Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu?" Malaikat menjawab, "Maha Suci Engkau ya Allah. Tidak ada yang kami ketahui selain apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Hanya Engkaulah yang mengetahui segala-galanya." Lalu Allah swt. berfirman kepada Nabi Adam a.s., "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu!"

Nabi Adam a.s. kemudian menyebut nama benda-benda yang diketahuinya. Para malaikat kagum. Mereka memberi hormat sehormat-hormatnya. "Bukankah sudah Kukatakan, Aku mengetahui rahasia langit dan bumi? Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui," firman Allah swt. kepada para malaikat. Para malaikat lalu memuja dan mengagungkan Allah swt. Mereka semakin menaruh hormat kepada Nabi Adam a.s. Ternyata Adam telah mengetahui apa yang belum mereka ketahui. Allah swt. menegaskan hal tersebut dalam surah al-Baqarah ayat 31 - 32.

Allah swt. kemudian memberikan Nabi Adam a.s. sebuah tempat yang nyaman dan sentosa yaitu surga. Tempat itu indah permai, segala kebutuhan hidup telah tersedia. Kebun surga penuh dengan buah-buahan yang rasanya lezat, air sungainya jernih dan berbau harum, pohon, tumbuhan, dan rumput seperti ditata rapi, teduh, dan nyaman sekali.
Kisah Diciptakannya Hawa Sebagai Pendamping Nabi Adam a.s.
Kisah Diciptakannya Hawa Sebagai Pendamping Nabi Adam a.s.
Tetapi Nabi Adam a.s. merasa kesepian karena tak mempunyai teman atau pasangan di dalam surga tersebut. Padahal ia melihat semua binatang yang ada di surga hidup berpasang-pasangan. Rasa sepi dan sedih membuatnya letih. Adam pun tertidur pulas di bawah pohon yang teduh. Allah Maha Tahu, Ia mengetahui pula yang tergerak di hati Nabi Adam a.s., yaitu ingin mempunyai teman. Maka selagi Nabi Adam a.s. tidur, Allah swt. menciptakan manusia lagi yang diambil dari tulang rusuk Nabi Adam a.s. sendiri. Manusia itu lain jenisnya dengan Adam. Ia adalah seorang wanita dan dinamakan dengan Hawa.

Ketika Nabi Adam a.s. bangun dari tidurnya, ia pun terkejut. Nabi Adam a.s. mengusap matanya, seakan tak percaya. Ia melihat seseorang duduk di sampingnya. Wanita itu indah, cantik, dan menakjubkan, "Siapakah engkau? Mengapa ada di sini?" tanya Nabi Adam a.s. Dengan tersenyum, Hawa menjawab, "Aku adalah Hawa yang diciptakan oleh Allah swt. untuk menjadi teman hidupmu."

Betapa gembiranya hati Nabi Adam a.s. mendengar jawaban itu. Ia memuji dan bersyukur kepada Allah swt. yang telah mengabulkan keinginannya sehingga ia tidak merasa kesepian lagi. Allah swt. berfirman di dalam al-Quran:

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفِسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ اِلَيْهَا, فَلَمَّا تَغَشَّهَا حَمَلَتْ حَمْلاً خَفِيْفًافَمَرَّتْ بِهِ, فَلَمَّآ اَثْقَلَتْ دَّعَوَا اللهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ اَتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الشَّكِرِيْنَ

Artinya: "Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya. Dia menciptakan istrinya agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya (istrinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya suami-istri bemohon kepada Allah swt., Tuhan mereka seraya berkata, "Jika Engkau memberi kami anak yang sholeh, tentulah kami akan selalu bersyukur." (Q.S. al-A'raf: 189).

Minggu, 14 Oktober 2012

Kisah Penciptaan Nabi Adam a.s.

Sebelum Nabi Adam a.s. diciptakan, Allah menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya. Langit dan bumi oleh Allah diciptakan dalam waktu enam hari atau masa. Sedangkan satu hari atau satu masa di sisi Tuhan sama dengan seribu tahun menurut perhitungan manusia. Allah Maha Kuasa apabila menghendaki sesuatu cukup berfirman, "Kun" (Jadilah!) maka jadilah apa yang diinginkan-Nya.

Sesudah menciptakan langit dan bumi Allah menciptakan makhluk yang bernama malaikat. Malaikat dibuat dari nur atau cahaya. Malaikat diciptakan sebagai makhluk yang tunduk dan patuh, senantiasa berbakti kepada-Nya. Sama sekali tidak pernah durhaka kepada-Nya. Malaikat tidak mempunyai nafsu, tidak makan dan tidak tidur, tidak melakukan perbuatan dosa. Tidak berjenis laki-laki atau perempuan dan mempunyai alam tersendiri yaitu alam ghaib yang tidak dapat dilihat manusia.

Sementara jin dan iblis diciptakan dari api yang sangat panas sebelum manusia. Ia mempunyai jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Jin ada yang patuh dan ada yang ingkar kepada perintah Tuhan. Jin yang ingkar dan membangkang perintah Allah disebut iblis dan setan.

Iblis dan keturunannya adalah makhluk yang sangat durhaka dan jahat. Tidak ada kebaikannya sama sekali. Pekerjaan iblis dan setan adalah menggoda manusia agar tersesat dan jatuh dalam lembah dosa. Permintaan iblis untuk hidup di dunia sampai hari kiamat dikabulkan Allah. Sebab dahulu iblis adalah makhluk yang pernah patuh kepada Allah. Jadi, perpanjangan umur bagi iblis hingga hari kiamat adalah sebagai balasan bagi kebaikannya di masa lalu sebelum diciptakannya Nabi Adam. Setelah Nabi Adam diciptakan oleh Allah, iblis menjadi makhluk pembangkang.

Sesudah langit dan bumi, malaikat dan jin atau iblis diciptakan maka Allah hendak menciptakan makhluk yang akan diperintah untuk mengelola bumi, yaitu Adam. Kisah penciptaan Adam diawali dengan dialog antara Allah dan para malaikat-Nya. Allah swt. memberitahukan kepada para malaikat bahwa Dia akan menciptakan khalifah di muka bumi.

Para malaikat mengira lalai dalam menjalankan tugasnya maka mereka berkata, "Mengapa Engkau hendak menciptakan manusia? Padahal mereka hanya akan berbuat kerusakan di atas bumi. Mereka akan saling bermusuhan dan berbunuhan. Bukankah kami para malaikat senantiasa patuh dan mengagungkan nama-Mu?"

Untuk melenyapkan kekhawatiran para malaikat itu, Allah swt. kemudian berfirman, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Para malaikat bungkam mendengar penegasan Allah itu. Bukankah Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu? Hal ini disebutkan dalam al-Quran:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَئِكَةِ اِنِّى جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً, قَالُوْآ اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيْهَا وَ يَسْفِكُ الدِّمآءَ, وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَ نُقَدِّسُ لَكَ, قَالَ اِنِّيْ اَعْلَمُ مَالاَ تَعْلَمُوْنَ

Artinya: "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Q.S. al-Baqarah: 30).
Kisah Penciptaan Nabi Adam a.s.
Kisah Penciptaan Nabi Adam a.s.
Demikianlah Allah kemudian menciptakan Adam dari tanah liat dan lumpur hitam. Setelah terbentuk kemudian dimasukkan roh ke dalamnya. Adam pun kemudian hidup. Bisa berdiri tegak. Adam adalah manusia pertama sekaligus sebagai nabi pertama di muka bumi. Setelah penciptaan Adam, Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud dan menghormat kepada Adam. Para malaikat pun bersujud sebagai pernyataan hormat dan ucapan selamat atas terciptanya Adam.

Hanya iblis yang tidak mau bersujud. Ia membangkang perintah Allah. Allah bertanya, "Apakah yang membuat engkau tidak bersujud kepada Adam?" "Saya lebih baik dari Adam. Engkau ciptakan saya dari api sedang Adam hanya dari segumpal tanah," kata iblis menyombongkan diri.

Yang berpendapat api lebih baik dari pada tanah adalah iblis sendiri. Padahal hanya Allah-lah yang Maha Tahu siapa yang lebih mulia di antara makhluk ciptaan-Nya. Allah pun murka mendengar jawaban iblis, "Hai iblis! Keluarlah engkau dari surga. Sungguh tidak patut kau tinggal di sini lagi dan terkutuklah engkau selama-lamanya!" Iblis berkata, "Wahai Tuhan! Engkau kutuk dan Engkau usir aku dari surga karena Adam. Saya rela. Tapi kabulkanlah permohonan saya untuk hidup lama hingga hari kiamat nanti."

Permohonan iblis dikabulkan bahwa ia akan dibiarkan hidup sampai hari kiamat tiba. Iblis kemudian bersumpah, "Wahai Tuhan, karena Engkau telah menghukum saya sebagai yang tersesat maka saya akan menghalang-halangi Adam dan keturunannya dari jalan-Mu yang lurus. Saya akan mendatangi untuk menggoda mereka dari muka dan belakang dari kiri dan dari kanan!"

Itulah sumpah iblis. Ia bertekad akan menyesatkan Adam dan keturunannya agar mereka menjauhi perintah Allah, berbuat kekacauan di muka bumi, saling bermusuhan dan berbunuhan satu sama lain. Allah menceritakan hal ini dalam al-Quran surah al-Hijr ayat 27-40.