Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 April 2013

Kisah Teladan Seorang Budak Bernama Mubarok

Di bawah ini adalah kisah teladan dari seorang budak penjaga kebun yang bernama Mubarok. Dan kelak, Mubarok melahirkan seorang anak yang alim, pakar hadits, zuhud, sekaligus mujahid. Selamat membaca.

Alkisah hiduplah seorang budak yang bernama Mubarok. Menurut suatu riwayat, ia pernah bekerja di sebuah kebun milik seorang majikan. Ia tinggal di sana beberapa lama. Kemudian suatu ketika majikannya, yaitu pemilik kebun tadi yang juga salah seorang saudagar kaya dari Hamdzan datang kepadanya dan mengatakan, "Hai Mubarok, aku ingin satu buah delima yang manis."

Dengan sigap sang budak yang bernama Mubarok itu bergegas menuju salah satu pohon dan mengambilkan delima yang diminta. Majikan tadi lantas memecahnya, ternyata ia mendapatkan rasanya masih asam.

Ia pun marah kepada Mubarok sambil mengatakan, "Aku minta yang manis malah kau beri yang masih asam! Cepat ambilkan yang manis!"

Ia pun beranjak dan memetiknya dari pohon yang lain. Setelah dipecah oleh sang majikan, ia mendapati rasanya masih asam. Kontan majikannya semakin naik pitam. Ia melakukan hal yang sama untuk ketiga kalinya, majikannya mencicipinya lagi. Ternyata masih juga yang asam rasanya. Setelah itu, majikannya bertanya, "Kamu ini apa tidak tahu, mana yang manis mana yang asam?"

Mubarok, dengan tenang menjawab, "Tidak, tuanku, bagaimana bisa seperti itu?"

"Sebab aku tidak pernah makan buah dari kebun ini sampai aku benar-benar mengetahui (kehalalan) nya."

"Kenapa engkau tidak mau memakannya?" tanya majikannya lagi.

"Karena Anda belum mengizinkan aku untuk makan dari kebun ini," jawab Mubarok. Pemilik kebun tadi menjadi terheran-heran dengan jawabannya itu.

Kisah Teladan Seorang Budak Bernama Mubarok
Kisah Teladan Seorang Budak Bernama Mubarok

Tatkala ia tahu akan kejujuran budaknya ini, Mubarok menjadi besar dalam pandangan matanya dan bertambah pula nilai orang ini di sisi dia. Kebetulan majikannya tersebut mempunyai seorang anak perempuan yang banyak dilamar oleh orang. Ia mengatakan, "Wahai Mubarok, menurutmu siapa yang pantas memperistri putriku ini?"

"Dulu orang-orang jahiliyah menikahkan putri-putri mereka lantaran keturunan. Orang Yahudi menikahkan karena harta, sementara orang Nasrani menikahkan karena keelokan paras. Dan umat ini menikahkan karena agama," jawab Mubarok.

Sang majikan kembali dibuat takjub dengan pemikiran jitunya itu. Akhirnya majikan tadi pergi dan memberitahu istrinya sambil berkata, "Menurutku, tidak ada yang lebih pantas untuk putri kita ini selain Mubarok."

Mubarok pun kemudian menikahinya dan mertuanya memberinya harta yang cukup melimpah. Di kemudian hari, istri Mubarok ini meliharkan Abdullah bin al-Mubarok, seorang alim, pakar hadits, zuhud sekaligus mujahid. Yang merupakan hasil pernikahan terbaik dari pasangan orang tua kala itu.

Sampai-sampai al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah mengatakan seraya bersumpah dalam perkataannya, "Demi Pemilik Kabah, kedua mataku belum pernah melihat orang yang semisal dengan Ibnu al-Mubarok."

Namun, apa yang terjadi pada saat ini, kecurangan dan penipuan sudah semakin banyak terjadi dalam kehidupan sebagian orang. Sangat jarang kita temukan orang jujur lagi terpercaya dalam menunaikan amanah serta yang jauh dari sifat curang dan penipu.

Demikianlah kisah teladan dari Mubarok, seorang budak penjaga kebun. Semoga ada hikmah untuk kita semua. Aamiin.

Senin, 26 November 2012

Dongeng Asal Mula Danau Si Losung dan Si Pinggan

Di bawah ini adalah sebuah dongeng (legenda) atau cerita rakyat tentang asal mula Danau Si Losung dan Si Pinggan di daerah Tapanuli Utara di daerah Silahan, kecamatan Lintong Ni Huta. Selamat membaca:

Konon dahulu ada dua orang bersaudara, namanya Datu Dalu dan adiknya Sangmaima. Orang tuanya mempunyai sebuah tombak pusaka. Sesuai dengan adat, jika orang tua meninggal maka tombak pusaka jatuh ke tangan anak yang tertua, yaitu Datu Dalu.

Suatu ketika Sangmaima ingin meminjam tombak pusaka itu untuk berburu babi hutan. Datu Dalu meminjamkan tombak itu kepada adiknya dengan syarat tombak itu harus dijaga baik-baik jangan sampai hilang. Begitulah ketika Sangmaima sampai di kebunnya dia melihat seekor babi hutan yang sedang merusak tanamannya.

"Babi hutan, sialan! Kerjanya merusak tanaman orang!" rutuknya. Tanpa berpikir panjang ia melemparkan tombak pusaka tepat mengenai lambung babi hutan itu. Babi hutan itu masih sempat melarikan diri. Sangmaima berusaha mengejar, tetapi yang dia temukan di semak-semak hanya tombaknya saja sedangkan mata tombaknya masih melekat di lambung babi hutan itu.

Sangmaima segera pulang, melapor pada abangnya. Dia sudah menduga abangnya pasti marah besar karena mata tombaknya hilang entah kemana.

"Kamu harus mendapatkan kembali mata tombak itu. Aku tidak mau tahu bagaimana caramu!" kata Datu Dalu kepada adiknya.

"Saya mohon maaf, bang. Hari ini juga saya akan mencari mata tombak itu."

"Sudah, jangan banyak bicara! Cepat berangkat!"

Hari itu juga Sangmaima berangkat ke hutan mencari mata tombak itu. Dari tempat tanamannya yang dirusak, ia melacak tapak-tapak babi hutan yang melarikan diri. Akhirnya ia menemukan sebuah lubang besar, tempat babi hutan itu menghilang. Dengan sebuah tali yang panjang, Sangmaima dapat mencapai dasar lubang itu. Dasar lubang itu ternyata merupakan pintu gerbang sebuah istana bawah tanah.

Di istana itulah akhirnya Sangmaima bisa menemukan mata tombaknya yang melekat di tubuh puteri raja yang sedang sakit. Tahulah sekarang Sangmaima, babi hutan yang pernah ia tombak itu ternyata jelmaan puteri raja. Setelah berhasil menyembuhkan sang puteri, diam-diam Sangmaima pergi untuk mengembalikan mata tombak kepada kakaknya.

Datu Dalu sangat gembira melihat kepulangan adiknya. Kegembiraan itu ia wujudkan dengan mengadakan pesta adat secara besar-besaran. Sayangnya dalam pesta itu ia tidak mengundang adiknya. Tindakan Datu Dalu ini membuat Sangmaima tersinggung. Lalu ia bermaksud mengadakan pesta sendiri. Dalam pesta Sangmaima ada tontonan yang menarik. Tontonan itu berupa seorang wanita yang dihias dengan berbagai macam bulu burung sehingga bentuknya menjadi seekor burung Ernga (biasanya berkicau di sore hari).
Dongeng Asal Mula Danau Si Losung dan Si Pinggan
Ilustrasi (gambar) bersumber dari Google
Di rumah Datu Dalu tamu yang datang sangat sedikit. Dia penasaran. Ketika diteliti, ternyata orang lebih senang datang ke rumah adiknya karena di situ ada tontonan yang menarik. Maka Datu Dalu segera ke rumah adiknya. Ia bermaksud meminjam tontonan itu untuk memikat tamu ke rumahnya. Sangmaima bersedia meminjamkan dengan syarat kakaknya harus menjaga jangan sampai burung Ernga itu rusak atau hilang.

Sangmaima kemudian mengantarkan Ernga ke rumah kakaknya. Dia sendiri kemudian bersembunyi di langit-langit rumah abangnya. Pada hari pertama pesta di rumah Datu Dalu cukup ramai karena adanya tontonan itu. Malamnya diam-diam Sangmaima menemui wanita yang menjadi Ernga, "Besok pagi buta, kamu harus meninggalkan tempat ini. Bawalah semua emas, pakaian yang telah diberikan kepadamu." "Baik, tuan," jawab wanita itu.

Pada pagi hari yang kedua, Datu Dalu bermaksud memanggil Ernga untuk bernyanyi lagi di hadapan penonton. Berulang-ulang dipanggil, Ernga itu tidak muncul. Datu Dalu menjadi cemas. Dia mencari ke sana kemari tetapi Ernga itu tetap tak tampak. Saat itulah datang Sangmaima mengingatkan perjanjian dengan abangnya tentang peminjaman burung Ernga. Datu Dalu berusaha mengganti berapa jumlah kerugian adiknya, namun Sangmaima tidak bersedia menerima ganti rugi itu.

Akhirnya pertikaian tak dapat dihindarkan lagi, meningkat menjadi pertikaian yang sengit. Keduanya sama-sama kuat. Datu Dalu kemudian mengambil sebuah lesung. Sekuat tenaga lesung itu dia lempar hingga jatuh di kampung Sangmaima. Ajaibnya di tempat terjatuhnya lesung itu terjadi sebuah danau. Sampai sekarang danau itu disebut danau Losung. Sangmaima pun tidak mau kalah dengan adiknya. Ia mengambil sebuah piring, dia lemparkan piring itu ke arah perkampungan abangnya. Di tempat jatuhnya piring itu pun terjadi sebuah danau. Sampai kini orang menyebutnya danau Si Pinggan. Itulah awal mula terjadinya danau Si Losung dan si Pinggan.

Senin, 19 November 2012

Dongeng Asal Mula Singaraja

Di bawah ini adalah kisah atau cerita rakyat dari asal mula nama Singaraja. Selamat membaca:

Dahulu kala di pulau Bali, tepatnya di daerah Klungkung hiduplah seorang raja yang bergelar Sri Sagening. Ia mempunyai istri yang cukup banyak. Istri yang terakhir bernama Ni Luh Pasek. Ni Luh Pasek berasal dari Desa Panji dan merupakan keturunan Kyai Pasek Gobleg. Namun malang nasib Ni Luh Pasek, sewaktu ia mengandung, ia dibuang secara halus dari istana, ia dikawinkan dengan Kyai Jelantik Bogol oleh suaminya.

Kesedihannya agak berkurang berkat kasih sayang Kyai Jelantik Bogol yang tulus. Setelah tiba waktunya ia melahirkan anak laki-laki. Bayi laki-laki itu ia beri nama I Gusti Gede Pasekan. Bayi tersebut pun makin hari makin besar, setelah dewasa ia mempunyai wibawa besar di Kota Gelgel. Ia sangat dicintai oleh pemuka masyarakat dan masyarakat biasa.

Ia juga disayang oleh Kyai Jelantik Bogol seperti anak kandungnya sendiri. Pada suatu hari, ketika berusia dua puluh tahun, Kyai Jelantik Bogol memanggilnya.

"Anakku, sekarang pergilah engkau ke Den Bukit di daerah Panji."

"Mengapa saya harus pergi ke sana, Ayah?"

"Anakku, itulah tempat kelahiran ibumu."

"Baiklah, Ayah. Saya akan pergi ke sana."

Sebelum berangkat, Kyai Jelantik Bogol berkata kepada anaknya, "I Gusti, bawalah dua senjata bertuah ini, yaitu sebilah keris bernama Ki Baru Semang dan sebatang tombak bernama Ki Tunjung Tutur. Mudah-mudahan engkau selamat."

"Baik, Ayah."

Dalam perjalanan ini, I Gusti Gede Pasekan diiringkan oleh empat puluh orang di bawah pimpinan Ki Dumpiung dan Ki Kadosot. Setelah empat hari berjalan, tibalah mereka di suatu tempat yang disebut Batu Menyan. Di sana mereka bermalam. Malam itu I Gusti Gede Pasekan dan ibunya dijaga ketat oleh para pengiringnya secara bergiliran.

Tengah malam, tiba-tiba datang makhluk gaib penghuni hutan. Dengan mudah sekali I Gusti Gede Pasekan diangkat ke atas pundak makhluk gaib itu sehingga ia dapat melihat pemandangan lepas dari lautan dan daratan yang terbentang di depannya.

Ketika ia memandang ke timur dan barat laut, ia melihat pulau yang amat jauh sedangkan ketika ia memandang ke arah selatan, pemandangannya dihalangi oleh gunung. Setelah makhluk gaib itu lenyap, didengarnya suatu bisikan, "I Gusti, sesungguhnya daerah yang baru engkau lihat itu akan menjadi daerah kekuasaanmu."

I Gusti Gede Pasekan sangat terkejut mendengar suara gaib itu. Namun ia juga merasa senang, bukankah suara itu adalah petanda bahwa suatu ketika ia akan mendapat kedudukan yang mulia, menjadi penguasa suatu daerah yang cukup luas.

Dongeng Asal Mula Singaraja
Dongeng Asal Mula Singaraja
 Memang untuk mencapai kemuliaan orang harus menempuh berbagai kesukaran terlebih dahulu. Ia menceritakan apa yang didengarnya secara gaib kepada ibunya. Ibunya memberi semangat untuk terus melakukan perjalanan. Keesokan harinya rombongan I Gusti Gede Pasekan melanjutkan perjalanan yang penuh dengan rintangan. Walaupun perjalanan ini sukar dan jauh, akhirnya mereka berhasil juga mencapai tujuan dengan selamat.

Pada suatu hari ketika ia berada di desa ibunya, terjadilah peristiwa yang menggemparkan. Ada sebuah perahu Bugis terdampar di pantai Panimbangan. Pada mulanya orang Bugis meminta pertolongan nelayan di sana, tetapi mereka tidak berhasil membebaskan perahu yang kandas. Nakoda perahu Bugis sudah putus asa, tetapi ketua kampung nelayan datang mendekatinya, "Hanya seorang yang dapat menolong, Tuan."

"Tuan, katakan saja. Siapa yang dapat menyeret perahu ke lautan?"

"Seorang anak muda, namun sakti dan penuh wibawa," jawab tetua kampung.

"Siapa namanya?"

"I Gusti Gede Pasekan."

Keesokan harinya orang Bugis itu datang kepada I Gusti Gede Pasekan. Ia berkata, "Kami mengharapkan bantuan Tuan. Jika Tuan berhasil mengangkat perahu kami, sebagian isi muatan perahu akan kami serahkan kepada Tuan sebagai upahnya."

"Kalau itu memang janji Tuan, saya akan mencoba mengangkat perahu yang kandas itu," jawab I Gusti Gede Pasekan. Untuk melepaskan perahu besar yang kandas itu, I Gusti Gede Pasekan mengeluarkan dua buah senjata pusaka warisan Kyai Jelantik Bogol.

Ia memusatkan perhatiannya. Tak lama kemudian muncullah dua makhluk halus dari dua buah senjata pusaka itu.

"Tuan, apa yang harus hamba kerjakan?"

"Bantu aku menyeret perahu yang kandas itu ke laut lepas."

"Baik, Tuan!"

Dengan bantuan dua makhluk halus itu, ia pun berhasil menyeret perahu dengan mudah. Orang lain jelas tak mampu melihat kehadiran si makhluk halus, mereka hanya melihat I Gusti Gede Pasekan menggerak-gerakkan tangannya menunjuk ke arah perahu.

Karena senangnya, orang Bugis itu pun menepati janjinya. Di antara hadiah yang diberikan itu terdapat dua buah gong besar, Karena I Gusti sekarang sudah menjadi orang kaya, ia digelari dengan sebutan I Gusti Panji Sakti.

Sejak kejadian itu, kekuasaan I Gusti Panji Sakti, mulai meluas dan menyebar kemana-mana. Ia pun mulai mendirikan suatu kerajaan baru di daerah Den Bukit.

Kira-kira pada pertengahan abad ke-17 ibu kota kerajaan itu disebut orang dengan nama Sukasada. Semakin hari kerajaan itu makin luas dan berkembang lalu didirikanlah kerajaan baru. Letaknya agak ke utara dari kota Sukasada. Sebelum dijadikan kota, daerah itu banyak sekali ditumbuhi pohon buleleng. Oleh karena itu, pusat kerajaan baru itu disebut Buleleng. Buleleng adalah nama pohon yang buahnya sangat digemari oleh burung perkutut. Di pusat kerajaan baru itu didirikan istana megah yang diberi nama Singaraja.

Rabu, 31 Oktober 2012

Kisah Teladan dari Nelayan Miskin

Di bawah ini adalah kisah teladan dari seorang nelayan miskin. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah atau pun pelajaran dari kisah tersebut. Selamat membaca:

Sebagai seorang nelayan kecil yang pekerjaannya mengail ikan di laut untuk menghidupi keluarganya, sehari mengail belum tentu akan mendapatkan hasil. Namun ketika seekor ikan menggelepar terkait mata kailnya, tiba-tiba datang seseorang dan merampas hasil tangkapannya.

"Hai! Berikan ikan itu padaku!" kata orang itu.

"Tapi ikan ini hasil tangkapanku," jawab si nelayan.

"Masa bodo!" teriak orang itu seraya merampas ikan itu dari tangan nelayan dengan kasar.

Tanpa dapat mencegahnya nelayan yang lemah itu hanya menatap orang yang merampas ikannya pergi meninggalkan tempat itu dengan pandangan kosong.

"Ya Allah, mengapa Kau ciptakan aku sebagai orang yang lemah seperti diriku? Dan Kau ciptakan orang lain lebih kuat dan gagah, sehingga dia bertindak sewenang-wenang kepada orang yang lemah seperti aku ini. Maka ciptakanlah ya Allah, makhluk lain yang lebih kuat dari dia, yang dapat mengalahkan dia agar menjadi pelajaran dan peringatan bagi umat manusia," ratap nelayan itu dalam doanya.

Tanpa mempedulikan keluhan nelayan miskin itu, orang kasar itu pulang dan membakar ikan hasil rampasannya. Dengan nafsunya, ia akan menyantap ikan bakar yang ada di atas mejanya. Namun malang baginya, ketika akan mengambil dan memakan ikan itu, sebuah duri mencocok jari tangannya.

"Ah!" orang itu memekik kesakitan.

Dan dengan seizin Allah, tangan yang kena duri ikan itu makin hari makin bertambah parah lukanya. Bagaikan kanker yang ganas, luka yang menjadi borok itu merambat ke lengan tangannya.
Kisah Teladan dari Nelayan Miskin
Ilustrasi/Gambar bersumber dari Google
Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengobati lukanya, tetapi tidak juga sembuh bahkan sampai harus dipotong sebatas sikunya. Tetapi meskipun tangannya sudah dipotong, baksil-baksil yang menyebabkan infeksi di tangan itu masih saja semakin mengganas hingga orang itu nyaris menjadi putus asa.

Dalam keputusasaannya itu, ketika ia tertidur bermimpi seolah-olah mendengar suara nelayan yang ikannya pernah dirampas beberapa waktu dulu, "Kembalikan hak itu kepada pemiliknya, itu bukan hakmu!"

Seketika orang itu terbangun dari tidurnya, hatinya termangu. Ada perasaan bersalah pada dirinya yang selama ini tak pernah disadarinya. Hati nuraninya tersentuh akibat peringatan nelayan lewat mimpinya.

"Ya, itu memang bukan hakku. Aku harus mengembalikan kepada pemiliknya," kata hati orang itu yang melecuti perasaannya.

Dengan sikap yang tegas dan hati yang mantap, dilangkahkan kakinya mencari nelayan miskin yang pernah dirampas ikannya itu. Setelah dijumpainya, orang itu menyerahkan uang sepuluh ribu dirham sebagai tebusan seekor ikan yang pernah dirampasnya beberapa waktu yang lalu.

Hatinya kini merasa lega, dia merasa terbebas dari kutukan perasaan yang selama ini menghantuinya. Alhamdulillah, atas seizin Allah pula sejak itu luka di tangannya mulai membaik. Baksil-baksil dan ulat yang menggerogoti tangannya berangsur-angsur mati dan hilang, dan luka itu menjadi sembuh. Tangan yang membusuk dan hampir diamputasi lagi sampai sebatas lengan kini telah sembuh. Lelaki itu kini telah dapat mengambil hikmah dari apa yang pernah diperbuatnya.

Kamis, 18 Oktober 2012

Kisah Tentang Hikmah Menyantuni Keluarga

Di bawah ini adalah kisah tentang hikmah menyantuni keluarga. Semoga kisah tersebut dapat memberikan hikmah (pelajaran) untuk kita semua. Selamat membaca:

Di suatu pagi hari, Sayyidina Ali Karomallahu Wajhah bertemu dengan Salman al-Farisi, ayah Abdillah.

"Hai ayah Abdillah, bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Sayyidina Ali kepada Salman al-Farisi.

"Memasuki pagi hari ini aku berada di antara empat kesedihan, ya amirul mukminin," jawab Salman al-Farisi.

"Apa saja kesedihan itu?" tanya Sayyidina Ali.

"Pertama sedih memikirkan keluarga yang menuntut makan kepadaku. Kedua sedih memikirkan perintah Allah terhadapku. Ketiga sedih menghadapi bujukan syaitan terhadap ruhku. Dan keempat sedih memikirkan tuntutan malaikat terhadap ruhku," jawab Salman al-Farisi.

Mendengar penuturan Salman, Sayyidina Ali berusaha menenteramkan hati sahabatnya itu.

"Hai ayah Abdillah, bergembiralah. Keempat kesedihan itu justru akan menambah derajatmu," kata Sayyidina Ali.

Kemudian ia menceritakan perjumpaannya dengan Rasulullah saw. beberapa waktu lalu.

"Hai Ali, bagaimana kabarmu pagi ini?" tanya Rasulullah saw.

"Ya Rasulullah, aku berada di antara empat kesedihan. Pertama di rumah tidak ada apa-apa kecuali air. Aku sedih memikirkan keadaan anak-anakku. Kedua aku sedih memikirkan ketaatanku kepada Allah. Ketiga sedih memikirkan akibatku, dan keempat aku sedih memikirkan malaikat pencabut ruh," jawab Ali.

Kemudian Sayyidina Ali meneruskan ceritanya kepada Salman al-Farisi. Saat itu Rasulullah saw. berkata:

"Ketahuilah olehmu Ali, bahwa rezeki para hamba itu ada di tangan Allah sehingga kesedihanmu itu sama sekali tiada gunanya, karena tidak membahayakan dan tidak pula menguntungkan. Hanya saja kau mendapatkan pahala atas kesedihan yang menimpamu itu. Jadilah engkau orang yang bersyukur, taat, dan bertawakkal kepada Allah maka engkau termasuk sahabat-Nya."
Kisah Tentang Hikmah Menyantuni Keluarga
Kisah Tentang Hikmah Menyantuni Keluarga
"Atas apa aku bersyukur kepada Allah?" tanya Ali kepada Rasulullah saw.

"Atas agama Islam," jawab Rasulullah saw.

"Apa yang harus aku kerjakan?"

"Bacalah Laa haula wa laa quwwata illa billahil 'aliyil adzim."

"Lalu apa yang harus aku tinggalkan?"

"Jauhi amarah. Sesungguhnya meninggalkan amarah itu bisa memadamkan murka Allah, memberatkan timbangan, dan menuntun ke surga," jawab Rasulullah.

"Semoga Allah menambah kemuliaanmu, wahai Ali. Sesungguhnya aku ini sedih disebabkan beberapa hal, terutama dalam urusan keluargaku," keluh Salman al-Farisi kemudian.

"Hai Salman, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Barang siapa yang tidak memelihara keluarganya maka ia tidak mendapat bagian surga'."

"Tapi, bukankah Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa pemilik keluarga tidak akan bahagia selama-lamanya?" tanya Salman al-Farisi.

"Hai Salman, bukan itu yang dimaksud Rasulullah saw.," sahut Sayyidina Ali meluruskan maksud hadits Rasulullah saw. itu.

"Jika pekerjaanmu itu halal maka engkau pun bahagia. Surga teramat rindu kepada orang-orang yang susah dan sedih karena memperhatikan barang yang halal," kata Sayyidina Ali menutup pembicaraannya.

Pembicaraan antara Sayyidina Ali dengan Salman al-Farisi ini bersumber dari Sa'id bin al-Musayyab. Dari pembicaraan tersebut bisa diambil hikmah betapa pentingnya menyantuni keluarga itu sebagai tabir dari api neraka.

Kamis, 11 Oktober 2012

Kisah Keteguhan Iman Masyitoh

Ketika Nabi Muhammad saw. melakukan perjalanan isra dan miraj, Nabi mencium bau yang sangat harum, kemudian Rasulullah saw. bertanya kepada malaikat Jibril, "Bau apakah ini?" Jibril menjawab, "Ini adalah bau wangi dari makam Masyitoh dan anak-anaknya." Masyitoh adalah tukang sisir putri Fir'aun, raja yang berkuasa dan sangat zalim.

Pada suatu hari Masyitoh sedang menyisir rambut putri Fir'aun. Tanpa disengaja sisir yang dipakainya terjatuh dan ia mengucapkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi ra jiun." Ucapan itu terdengar oleh putri Fir'aun seraya berkata, "Jangan kau sebut nama itu, sebutlah nama ayahku!" Dengan tegas Masyitoh menjawab, "Tidak, saya akan tetap menyebut nama Allah." "Siapakah Allah itu? Adakah Tuhan selain ayahku?" tanya putri Fir'aun. Masyitoh menjawab, "Ada yaitu Tuhan Yang Maha Esa, yang harus kita sembah. Itu Tuhanku dan Tuhanmu serta Tuhan ayahmu." Putri Fir'aun merasa tersinggung dan mengancam, "Awas, akan aku adukan kepada ayahku!" "Terserah, saya tidak takut!" jawab Masyitoh dengan tegas dan tenang.

Putri Fir'aun rupanya benar-benar mengadukan kejadian itu kepada ayahnya. Tidak lama kemudian, Fir'aun memanggil Masyitoh dan bertanya, "Siapa Tuhanmu?" "Tuhanku adalah Allah," jawab Masyitoh. Fir'aun marah dan mengancam, "Kalau kamu tidak mau mencabut kata-kata itu, kamu akan saya lemparkan ke dalam air panas." Masyitoh tetap pada pendiriannya. Ia tidak mau mengingkari Allah. Kemudian ia menjawab, "Saya tidak takut, saya hanya takut kepada Allah. Sesungguhnya Allah adalah Tuhan semua manusia, yang menciptakan alam. Tidak ada Tuhan selain Allah."

Kisah Keteguhan Iman Masyitoh
Kisah Keteguhan Iman Masyitoh
Fir'aun semakin marah. Ia menyuruh pengawalnya untuk membuat tanur, yaitu belangga besar dibuat dari logam kuningan. Belangga itu diisi air dan dipanaskan sampai mendidih. Fir'aun memerintahkan pengawalnya agar Masyitoh beserta anak-anaknya dilemparkan ke dalam air yang mendidih itu. Sebelum dilemparkan, Masyitoh minta agar tulangnya dan tulang anaknya dikumpulkan dan dikuburkan. Permintaannya diterima Fir'aun.

Satu persatu anak-anak Masyitoh dilemparkan ke dalam belangga yang berisi air mendidih itu. Kini tinggal anaknya yang terakhir yang masih menyusui. Masyitoh kelihatan ragu-ragu, karena kasihan melihat anaknya yang masih kecil itu. Tetapi tiba-tiba bayi yang masih menyusu itu bisa berbicara dan ia berkata kepada ibunya, "Sabarlah wahai ibuku, tabahkan hatimu. Sesungguhnya kita berada di pihak yang benar." Masyitoh akhirnya tidak ragu-ragu lagi. Bahkan ia sangat gembira karena akan memperoleh kebahagiaan di akhirat. Ia pun mengucapkan, "Bismillahi tawakkaltu alallah, Allahu Akbar!" Kemudian ia terjun ke air yang sedang mendidih bersama anaknya yang masih kecil.

Itulah kisah Masyitoh seorang yang teguh pendiriannya dan kokoh imannya. Sedikit pun tidak bergeser imannya, demi mempertahankan keyakinan kepada Allah swt. Sebagai bukti diterima imannya oleh Allah, tercium bau semerbak mewangi oleh Nabi Muhammad saw. ketika melewati kuburannya.

Rabu, 10 Oktober 2012

Kisah Tentang Ashabul Kahfi

Di bawah ini adalah kisah tujuh pemuda ashabul kahfi, di mana Allah swt. telah mengabdikannya di dalam al-Quran dan menjadikannya sebagai nama salah satu surah dalam al-Quran, yaitu al-Kahfi. Selamat membaca:

Menurut riwayat, mayoritas penduduk kota Upsus tinggal di Tartus, Turki, Asia Kecil yang penduduknya menganut agama Nasrani. Suatu waktu mereka diperintah oleh seorang penguasa yang zalim dan angkuh serta haus kekuasaan, yang bernama raja Diyaknus. Ia adalah kaisar dari bangsa Romawi yang berkuasa antara tahun 249 – 251.

Diyaknus memaksa rakyatnya agar meninggalkan agama mereka dan beralih menyembah berhala. Ia membunuh siapa saja yang menentang perintahnya sehingga rakyatnya yang takut akan ancaman rela meninggalkan agamanya mengikuti perintah sang raja. Namun, di antara penduduk tersebut terdapat tujuh pemuda yang tidak mau mengikuti perintah Diyaknus.

Seluruh pemuda itu tetap mempertahankan keimanannya dengan tetap menyembah Allah swt. Diyaknus mengetahui pendirian mereka yang teguh. Ia memanggil dan mengancam akan membunuh mereka. Ketika menghadap raja, ketujuh pemuda dengan tegas mengatakan, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi. Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kalau menyembah selain Dia telah melakukan perbuatan yang amat jauh dari kebenaran.”

Sekalipun raja sangat garang dengan pendirian mereka, namun ia memberikan waktu berpikir kepada mereka untuk mempertimbangkannya, bila tidak mau merubah pendirian ia akan membunuh mereka. Maka dengan ilham dari Allah swt, di antara mereka terjadi perbincangan, “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu. Niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu.”
Kisah Tentang Ashabul Kahfi
Kisah Tentang Ashabul Kahfi
Untuk menyelamatkan keimanan, pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke suatu gua yang terletak di gunung Naikhayus, tidak jauh dari kota Upsus, kemudian mereka berdoa, “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.”

Mereka adalah pemuda-pemuda yang benar-benar beriman maka Allah swt. menambah petunjuk kepada mereka. Setelah mereka di dalam gua maka Allah swt. menutup telinga mereka dan mereka tertidur.

Raja pun ternyata mengetahui bahwa para pemuda tersebut bersembunyi dalam gua. Raja kemudian memerintahkan kepada prajuritnya untuk menangkap mereka, namun tak seorang pun yang sanggup masuk ke dalamnya. Maka raja memerintahkan rakyatnya menutup pintu gua agar pemuda itu mati kelaparan.

Tanpa mereka sadari masa berlalu ratusan tahun, yaitu selama tiga ratus tahun ditambah sembilan tahun. Lalu Allah swt. membangunkan mereka. Dan berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sudah berapa lamakah kita berada di sini? Kita berada di sini sehari atau setengah hari?” Yang lain berkata, “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lama kamu berada di sini.” Maka salah seorang di antara mereka pergi ke kota untuk membeli makanan dengan membawa uang perak. Utusan tersebut merasa heran karena melihat adanya perubahan mencolok di sekitar kota. Ia lebih terkejut lagi ketika uangnya ditolak oleh penjual makanan dan dikatakan bahwa uangnya tidak laku lagi. Bahkan penjual makanan menuduh pemuda itu hendak menipu. Ketika peristiwa ini diketahui oleh petugas kerajaan maka pemuda itu diselidiki. Kemudian ia menceritakan perihal dirinya dan keenam temannya. Ia pun diberitahu bahwa raja Diyaknus telah meninggal ratusan tahun yang lalu dan raja yang berkuasa sekarang ada raja Theodosius yang beriman kepada Allah swt.

Semoga kisah tentang Ashabul Kahfi tersebut dapat memberikan hikmah dan pelajaran untuk kita semua. Segala kekuatan kita kembalikan kepada Allah swt.

Senin, 08 Oktober 2012

Kisah Tentang Doa Orang Yang Ditimpa Musibah

Berikut ini adalah kisah (cerita) tentang seorang saudagar yang tekun beribadah dan wara ketika menghadapi perampok di dalam perjalanannya. Semoga kisah di bawah ini memberikan hikmah (pelajaran) untuk kita semua. Selamat membaca:

Dikisahkan pada suatu masa ada seorang saudagar yang tekun beribadah dan wara’. Suatu ketika di dalam perjalanan dia dicegat oleh sekawanan perampok yang mendorongnya dengan senjata. Si perampok itu membentak, “Letakkan barang bawaanmu, karena aku akan membunuhmu!” Saudagar itu berkata, “Bila engkau hanya menginginkan barangku, mengapa engkau juga inginkan darahku?”

Perampok menjawab, “Harta ini akan menjadi milikku dan aku ingin darahmu!” Saudagar itu berkata, “Baiklah, karena kamu menginginkan demikian, tetapi berikan aku kesempatan sholat empat rakaat,” Perampok berkata, “Terserah kamu.” Karena para perampok mengatakan demikian, kemudian ia berwudhu dan mengerjakan sholat empat rakaat.

Ketika di akhir sholat dan pada sujud yang terakhir, ia berdoa kepada Allah, “Wahai Zat yang menguasai arsy yang agung, wahai Zat yang melakukan apa yang dikehendaki, hamba mohon dengan kebesaran-Mu, yang tiada bandingnya dan dengan kekuasaan yang tiada terkurangi dan dengan cahaya-Mu yang memenuhi pilar-pilar arsy-Mu, aku mohon kepada-Mu yang melindungi diriku dari perampok. Wahai Zat yang Maha Pemberi Pertolongan, tolonglah hamba-Mu ini.”
Kisah Tentang Doa Orang Yang Ditimpa Musibah
Kisah Tentang Doa Orang Yang Ditimpa Musibah
Setelah ia membaca doa tersebut tiga kali, tiba-tiba muncul seorang ksatria penunggang kuda dengan mengacungkan tombak di antara dua telinga kudanya. Saat para perampok melihaat penunggang kuda maka seketika itu para perampok menghadangnya. Terjadilah pertempuran seru. Namun ternyata si penunggang kuda terlalu kuat bagi para perampok sehingga para perampok berhasil dikalahkan.

Si penunggang kuda menemui saudagar itu. Ia berkata,” Bangunlah.” Si saudagar bertanya, “Siapakah engkau? Demi bapak dan ibuku pada hari ini Allah telah menolongku dengan perantara dirimu.” Si penunggang kuda menjawab, “Aku adalah malaikat penghuni langit.”

Kamudian malaikat itu berkata, “Ketika engkau mengucapkan doa yang pertama, aku mendengar suara gelegar pintu-pintu langit. Saat kau berdoa yang kedua, aku mendengar hiruk pikuk penghuni langit. Saat engku mengucapkan doa yang ketiga kali, dikatakan kepadaku doa orang yang ditimpa bencana, maka aku memohon kepada Allah untuk dapat menyelamatkanmu.”

Demikianlah kisah tentang doa orang yang ditimpa musibah. Semoga teladan yang ada di dalam kisah tersebut dapat kita pahami. Dan menurut sumber yang ada, barang siapa berwudhu dan sholat empat rakaat lalu mengucapkan doa yang dibaca oleh saudagar tersebut, niscaya –insya Allah- doanya akan dikabulkan baik dalam keadaan ditimpa bencana atau tidak.

Kamis, 04 Oktober 2012

Kisah Tentang Orang Yang Melakukan Taubat Palsu

Di bawah ini adalah kisah dari seorang yang sering melakukan taubat, namun taubat yang dilakukannya hanyalah palsu dan main-main, tidak dengan sebenar-benarnya taubat. Semoga kisah ini dapat memberikan hikmat (pelajaran) untuk kita semua. Selamat membaca:

Dikisahkan, pada zaman dahulu ada seorang yang suka berfoya-foya, tetapi kemudian dia bertaubat, hari-harinya diisi dengan memperbanyak ibadah kepada Allah swt.

Suatu ketika orang tersebut jatuh sakit sehingga tidak nampak di masjid, seorang sahabat datang ke rumahnya untuk menengok, ternyata benar dia sedang sakit dan berbaring di atas ranjang yang terletak di tengah rumahnya. Mukanya nampak berwarna kehitaman, kedua matanya tertutup dan kedua bibirnya bengkak menebal.

Kemudian sahabatnya berkata, "Wahai saudaraku perbanyaklah mengucap laa ilaha illallah." Mendengar pernyataan itu, ia lalu membuka mata dan menatap penuh kemarahan, kemudian ia tak sadarkan diri. Setelah itu, sahabat tersebut mengulangi perkataan tadi hingga tiga kali, barulah ia membuka mata dan berkata, "Wahai sahabatku, kalimat itu sudah menjauh dari diriku."

Kemudian sahabat berkata lagi, "Wahai saudaraku, di mana sholatmu, puasamu, dan sholat malammu?" Kemudian ia menjawab, "Aku melakukan semua itu bukan mengharap ridho Allah, dan tobatku adalah palsu, semua kulakukan agar aku dikenal dan disebut-sebut sebagai orang alim, bila aku sendirian di rumah aku meminum khamar dan menantang Tuhan dengan kemaksiatan. Semua itu kulakukan selama beberapa masa, hingga aku ditimpa penyakit yang hampir binasa."
Kisah Tentang Orang Yang Melakukan Taubat Palsu
Kisah Tentang Orang Yang Melakukan Taubat Palsu
Kemudian ia bercerita lagi, "Waktu pertama kali aku sakit, aku menyuruh anakku untuk mengambil mushaf dan berdoa kepada Allah, 'Ya Allah, demi kebenaran al-Quran yang agung, sembuhkanlah aku. Aku berjanji tidak akan melakukan perbuatan dosa untuk selamanya.

Allah swt, akhirnya mengabulkan doaku. Dan aku sembuh dari penyakit yang kuderita. Tapi setelah sembuh, aku kemudian berfoya-foya dan menikmati kelezatan dunia. Ternyata setan telah membuatku lupa akan ikrar yang aku ucapkan di hadapan Tuhan. Kemudian aku jatuh sakit kembali, dan aku pun melakukan seperti yang semula aku lakukan, berikrar kepada Tuhan dengan mushaf di atas kepalaku kemudian Allah masih memberi ampunan, tapi lagi-lagi setan melupakan segala-galanya hingga aku jatuh sakit kembali, kemudian kuulangi berikrar kepada Allah lagi, tapi kini mataku sudah tidak dapat melihat satu huruf pun, dan aku kini menyadari bahwa Allah telah murka kepadaku, kemudian aku ingin benar-benar bertobat lagi, kuacungkan mushaf di atas kepala sambil berdoa, 'Ya Allah, demi kehormatan mushaf ini, bebaskanlah aku dari penyakit ini, wahai penguasa langit dan bumi."

Setelah dia mengucapkan ikrarnya, tiba-tiba terdengar suara yang memanggil, "Engkau bertaubat tatkala engkau sakit, dan engkau kembali kepada perbuatan dosa tatkala engkau sembuh. Betapa banyak Dia menyelamatkanmu dari kesusahan, dan berapa banyak Dia menyingkap bala cobaan tatkala engkau diuji, tidaklah engkau takut dengan datangnya kematian? Dan engkau telah binasa di dalam kesalahan-kesalahan."

Kemudian sahabat itu keluar dari rumah dengan air mata yang menetes, dan tatkala ia sampai di pintu rumahnya ia telah mendengar bahwa orang itu telah meninggal dunia.

Demikianlah kisah (cerita) dari orang yang sering melakukan taubat palsu. Ganjaran yang didapat begitu menyakitkan, mati dalam keadaan murka di hadapan Allah swt. Semoga kisah di atas dapat memberikan hikmah atau pun pelajaran bagi kita semua untuk dapat menjadi orang yang sholeh dan jikalau ada kesalahan yang telah kita lakukan, segeralah kita untuk bertaubat kepada Allah dengan taubatan nasuhah (taubat yang sebenar-benarnya).

Selasa, 02 Oktober 2012

Kisah Tentang Hasud Membawa Bencana

Di bawah ini adalah kisah dari seorang bodoh yang mencoba menghasud raja karena dengki dengan penasehat raja yang sangat akrab dengan sang raja. Semoga kisah ini dapat memberi teladan untuk kita semua. Selamat membaca:

Alkisah pada suatu masa ada seorang raja yang arif dan bijaksana. Raja itu mempunyai seorang penasehat yang saleh. Sewaktu mereka berbincang-bincang dengan raja tentang akibat yang ditimbulkan dari sifat dengki, penasehat berpesan agar raja bertindak arif dan bijaksana terhadap rakyat dan para pembantunya.

Melihat penasehat sangat akrab dengan raja, ada orang bodoh yang iri dan sangat benci pada penasehat. Si bodoh mempunyai rencana untuk menjauhkan raja bahkan membuat raja membenci penasehat.

Setelah penasehat pulang maka orang bodoh segera menghampiri raja dengan tujuan untuk memfitnah penasehat. “Hai ada apa Saudara?” tanya raja. “Maaf paduka, hamba ingin menghadap untuk menyampaikan sesuatu yang sangat penting demi kehormatan dan kewibawaan paduka di mata rakyat,” kata orang bodoh itu.

Mendengar maksud orang bodoh itu, raja pun mempersilakan orang tersebut untuk menyampaikan nasehatnya. “Begini paduka, tadi saya melihat penasehat dengan paduka dan kelihatan baik kepada paduka. Perlu paduka ketahui bahwa kebaikan penasehat hanyalah semu dan dibuat-buat, ibarat pepatah musang berbulu ayam.”

“Kalau begitu apa buktinya?” kata raja dengan tidak percaya.

“Begini paduka, sebelumnya saya minta maaf bahwa penasehat pernah berkata kepada saya dan teman-teman bahwa paduka mempunyai bau busuk sehingga bila berbicara dengan paduka dia selalu menutupi mulutnya, paduka bisa membuktikan sendiri.”

Mendengar semua itu raja pun menjadi marah dan naik pitam. Melihat raja marah, hati orang itu tertawa karena tipu dayanya berhasil.
Kisah Tentang Hasud Membawa Bencana
Gambar bersumber dari google
Setelah mengadu kepada raja, orang itu segera menemui penasehat di rumahnya untuk diundang makan malam. Penasehat pun datang ke rumah orang itu, di sana penasehat dijamu dengan aneka makanan yang diberi lalapan bawang, pete, jengkol dan makanan yang berbau tidak sedap. Dengan lahapnya penasehat menikmati hidangan tersebut.

Pada pagi harinya raja memanggil penasehat untuk menghadap dan untuk membuktikan perkataan orang itu, kemudian baginda mengajak bicara. Ketika penasehat berbicara kadang menjauhkan muka dan menutup mulutnya, langsung saja raja membenarkan ucapan orang yang melapor.

Kemudian raja menulis sebuah surat kepada seseorang yang harus diantar oleh penasehat, “Penasehat tolong surat ini sampaikan kepada alamat yang ada di dalam surat ini!” perintah raja.

“Baik baginda. Assalamu’alaikum.” Dengan perasaan senang seperti tidak terjadi sesuatu, penasehat keluar dari istana dan setibanya di pintu gerbang kerajaan, penasehat bertemu dengan orang bodoh itu.

Melihat penasehat gembira orang itu pun penasaran dan menghampirinya, “Hai penasehat, kelihatannya kamu gembira sekali,” kata orang itu. “Ya, aku mendapatkan amanat dari raja untuk menyampaikan surat ini,” jawab penasehat. Kemudian timbullah sikap serakah dari orang itu. Karena sudah menjadi kebiasaan setiap mengantar surat pasti diberi uang ganti perjalanan yang lumayan banyak, apalagi surat itu langsung dari raja, yang ditulis sendiri. Biasanya berisi tentang hadiah.

“Begini penasehat, bagaimana kalau surat itu aku saja yang mengantar. Aku kasihan padamu karena alamat surat ini jauh,” pinta orang itu. Sebenarnya penasehat tidak mau memberikan, tetapi karena selalu diminta terus akhirnya penasehat mengalah demi persahabatan mereka. Dengan suka cita pergilah orang itu ke alamat surat tersebut, yang dialamatkan pada seorang jalwa atau algojo kerajaan.

Kemudian orang itu dipersilakan duduk dan dibacalah surat tersebut yang isinya perintah untuk membunuh pengantar surat tersebut karena telah menghina raja, akhirnya dengan bengis algojo itu menghajar orang itu dan membunuhnya.

Itulah balasan bagi orang yang suka bersikap hasud atau dengki yang justru akan kembali pada dirinya sendiri.

Semoga kisah di atas dapat memberikan pelajaran untuk kita semua dan dijauhkan dari sikap hasud atau dengki.

Minggu, 30 September 2012

Kisah Tentang Kesalehan Jiwa

Di bawah ini adalah sebuah kisah dari Ibrahim ibnu Adham yang memberikan nasihat kepada seorang tabib ahli jiwa, di mana nasihat-nasihat yang diberikannya begitu bermakna dan menyentuh. Selamat membaca:

Ada seorang lelaki mendatangi Ibrahim ibnu Adham. Dia adalah seorang tabib ahli jiwa. Lelaki itu berkata kepada Ibrahim, “Aku adalah orang yang menyakiti diri sendiri. Tunjukkanlah kepadaku hal-hal yang membuatku jera.” Ibrahim menasihatinya, “Jika kamu melakukan lima hal ini, kamu tidak akan termasuk orang-orang yang melakukan maksiat.”

Lelaki itu sangat bersemangat untuk mendengar nasihat Ibrahim. “Berikanlah apa yang engkau punya wahai Ibrahim.” Maka Ibrahim menyebutnya:

Pertama, “Jika kamu ingin berbuat maksiat kepada Allah, janganlah kamu memakan sesuatu pun dari rezeki-Nya.” Orang itu pun terheran-heran dan berkata dengan nada bertanya, “Bagaimana engkau mangatakan hal itu wahai Ibrahim padahal semua rezeki datangnya dari Allah swt?” Ibrahim menjawab, “Jika kamu mengetahui hal itu, apakah pantas kamu makan rezeki-Nya dan berbuat maksiat terhadap-Nya?” Orang itu berkata, “Tidak, wahai Ibrahim.”

Kedua, “Jika kamu ingin berbuat maksiat kepada Allah, janganlah kamu bertempat tinggal di negeri-Nya.” Maka orang itu terheran-heran melebihi keheranannya yang pertama dan bertanya, “Mengapa engkau mengatakan hal itu wahai Ibrahim padahal semua negeri ini milik Allah?” Ibrahim menjelaskan, “Bila kamu mengetahui hal itu, apa pantas kamu berbuat maksiat kepada-Nya?” Lelaki itu menjawab, “Tidak.”

Ketiga, “Jika kamu ingin berbuat maksiat kepada Allah maka carilah suatu tempat yang Allah tidak melihatmu. Jika kamu mendapatkan tempat itu maka lakukanlah maksiatmu kepada Allah.” Lelaki itu berkata, “Bagaimana engkau mengatakan hal itu padahal Allah Maha Mengetahui segala rahasia dan Maha Mendengar derap kaki semut yang sedang berjalan di atas batu cadas yang keras pada malam yang gelap gulita?” Maka Ibrahim berkata, “Bila kamu mengetahui hal itu apa pantas kamu berbuat maksiat kepada-Nya?” Lelaki itu menjawab, “Tidak.”
Kisah Tentang Kesalehan Jiwa
Kisah Tentang Kesalehan Jiwa
Keempat, “Jika datang malaikat maut untuk mencabut nyawamu maka katakan padanya, ‘Tundalah sampai batas tertentu’.” Lelaki itu pun terheran-heran, “Bagaimana engkau mengatakan hal itu padahal Allah berfirman, ‘Maka Apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak dapat memajukannya’?” Maka Ibrahim menjawab, “Bila kamu mengetahui hal itu, bagaimana kamu mengharapkan keselamatan?” Lelaki itu berkata, “Benar.”

Kelima, “Bila datang kepadamu malaikat Zabaniah yakni malaikat penjaga neraka jahanam untuk menjeratmu menuju neraka jahanam, janganlah kamu pergi bersama mereka.” Belum selesai Ibrahim menjelaskan nasihat yang kelima, lelaki itu menangis sambil berkata, “Cukup Ibrahim! Aku mohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya” Orang itu pun akhirnya menekuni ibadah sampai akhir hayatnya.

Semoga kisah (cerita) diatas dapat memberikan hikmah (pelajaran) dan keteladanan untuk kita semua dan nasihat-nasihat dari Ibrahin ibnu Adham dapat menjadikan kita sebagai hamba Allah swt. yang selalu dapat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Amin.

Sabtu, 29 September 2012

Kisah Teladan Khalifah Umar Bin Khattab dan Ibu Pemasak Batu

Suatu masa dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun. Pepohonan mengering, tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam seperti abu.

Putus asa mendera di mana-mana. Saat itu Umar sang pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya saksama. Tanggung jawabnya dijalankan sepenuh hati. Setiap hari ia menginstruksikan aparatnya menyembelih onta-onta potong dan menyebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran di tangan ini.”

Umar menabukan makan daging, minyak samin, dan susu untuk perutnya sendiri. Bukan apa-apa, ia khawatir makanan untuk rakyatnya berkurang. Ia, si pemberani itu, hanya menyantap sedikit roti dengan minyak zaitun. Akibatnya, perutnya terasa panas dan kepada pembantunya ia berkata “Kurangilah panas minyak itu dengan api”. Minyak pun dimasak, namun perutnya kian bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah demikian, ditabuh perutnya dengan jemari seraya berkata, “Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak, sampai rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar.”

Hampir setiap malam Umar bin Khattab melakukan perjalanan diam-diam. Ditemani salah seorang sahabatnya, ia masuk keluar kampung. Ini ia lakukan untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. Umar khawatir jika ada hak-hak mereka yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya.

Malam itu pun, bersama Aslam, Khalifah Umar berada di suatu kampung terpencil. Kampung itu berada di tengah-tengah gurun yang sepi. Saat itu Khalifah terperanjat. Dari sebuah kemah yang sudah rombeng, terdengar seorang gadis kecil sedang menangis berkepanjangan. Umar bin Khattab dan Aslam bergegas mendekati kemah itu, siapa tahu penghuninya membutuhkan pertolongan mendesak.

Setelah dekat, Umar melihat seorang perempuan tua tengah menjerangkan panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.

“Assalamu’alaikum,” Umar memberi salam.

Mendengar salam Umar, ibu itu mendongakan kepala seraya menjawab salam Umar. Tapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci.

“Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?” tanya Umar.

Dengan sedikit tak peduli, ibu itu menjawab, “Anakku….”

“Apakah ia sakit?”

“Tidak,” jawab si ibu lagi. “Ia kelaparan.”

Umar dan Aslam tertegun. Mereka masih tetap duduk di depan kemah sampai lebih dari satu jam. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya.
Kisah Teladan Khalifah Umar Bin Khattab dan Ibu Pemasak Batu
Kisah Teladan Khalifah Umar Bin Khattab dan Ibu Pemasak Batu
Umar tidak habis pikir, apa yang sedang dimasak oleh ibu tua itu? Sudah begitu lama tapi belum juga matang. Karena tak tahan, akhirnya Umar berkata, “Apa yang sedang kau masak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?”

Ibu itu menoleh dan menjawab, “Hmmm, kau lihatlah sendiri!”

Umar dan Aslam segera menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?”

Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala.

“Buat apa?”

Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, “Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”

Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”

Mendengar penuturan si Ibu seperti itu, Aslam akan menegur perempuan itu. Namun Umar sempat mencegah. Dengan air mata berlinang ia bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu.

Karena Umar bin Khattab terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saja yang memikul karung itu.”

Dengan wajah merah padam, Umar menjawab, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”

Aslam tertunduk. Ia masih berdiri mematung, ketika terseok-seok Khalifah Umar bin Khattab berjuang memikul karung gandum menuju ke tempat wanita dan anak-anaknya yang sedang kelaparan. Ketika sampai di tempat wanita tersebut kemudian khalifah Umar meletakkan karung berisi gandum dan beberapa liter minyak samin ke tanah, kemudian memasaknya. Tatkala gandum tersebut sudah masak Khalifah Umar meminta sang ibu membangunkan anaknya.

“Bangunkanlah anakmu untuk makan.”

Anak yang kelaparan tersebut bangun dan makan dengan lahapnya. Anak tersebut kembali tertidur dengan perut yang telah kenyang.

Wanita itu berkata, “Terimakasih, semoga Allah membalas perbuatanmu dengan pahala yang berlipat.”

Sebelum pergi, khalifah Umar berkata kepada wanita tersebut untuk datang menemui khalifah Umar bin Khattab ra, karena khalifah akan memberikan haknya sebagai penerima santunan negara.

Esok harinya pergilah wanita tersebut ke tengah kota Madinah untuk menemui khalifah Umar bin Khattab ra, dan tatkala wanita tersebut bertemu dengan khalifah Umar, betapa terkejutnya wanita tersebut bahwa khalifah Umar adalah orang yang memanggulkan dan memasakkan gandum tadi malam.

Jumat, 28 September 2012

Kisah Teladan Siasat Laba-laba

Berikut ini adalah kisah dari seekor laba-laba yang mengatur siasanya. Semoga bermanfaat bagi kita semua:

Seseorang mengambil sebatang tongkat dan menancapkannya di tepi kolam. Ia lalu mengambil seekor laba-laba dan menaruhnya di ujung tongkat. Orang itu berdiri, memperhatikan cara yang akan ditempuh laba-laba untuk keluar dari tempat itu.

Dengan tenang laba-laba itu turun dari ujung tongkat hingga mencapai air. Laba-laba itu melihat bahwa jalanan buntu. Ia lantas berputar mengelilingi tongkat, berharap akan menemukan jalan keluar. Ketika usahanya sia-sia, laba-laba itu kembali ke atas tongkat. Ia diam sejenak tanpa bergerak, seolah sedang berpikir, mencari siasat agar terbebas dari penjaranya.

Akhirnya, laba-laba mengeluarkan benang panjang dari perutnya. Salah satu ujung benang diletakkan pada tongkat dan ujung lainnya ia biarkan terbang di udara. Laba-laba itu menanti apa yang akan dilakukan oleh Allah dengannya. Ujung benang itu kemudian menempel pada pohon kecil yang terdapat di tepi kolam. Lalu, laba-laba itu menyeberangi jembatan yang telah dibuatnya dan sampai di daratan dengan selamat dan sentosa.

Ketika menyaksikan peristiwa itu, orang tersebut merasa yakin bahwa Allah tidak menciptakan seekor hewan, yang kecil sekalipun, kecuali juga menciptakan kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri.
Kisah Teladan Siasat Laba-laba
Kisah Teladan Siasat Laba-Laba
Kisah Siasat Laba-laba di atas mengajarkan kepada kita semua bahwa Allah menciptakan seluruh makhluk dengan kemampuan masing-masing. Di kisah ini pun diajarkan bahwa apabila kita sedang mengalami kesulitan, jangan pernah mudah menyerah, tetapi hendaklah terus berusaha sambil dibarengi dengan berpikir dan merenung, insya Allah, Allah yang akan membantu kita.

Semoga kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang berpikir untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Amin.

Kamis, 27 September 2012

Kisah Teladan Laba-laba dan Lalat

Berikut kisah dari Laba-laba dan Lalat. Semoga kisah di bawah ini memberikan manfaat dan hikmah untuk kita semua. Selamat membaca:

Laba-laba: “Aku melihat seekor burung terbang tinggi. Dengungnya mengabarkan nyanyian merdu. Inilah lalat yang datang merindukanku. Selamat datang wahai yang kedatangannya amat aku nantikan.”

Lalat: “Apa maumu dengan sambutan ini? Menyakiti makhluk yang mencintai hidup yang tenteram? Aku tahu, jika laba-laba melihat lalat, ia tidak kuasa menahan hasrat untuk bersantap.”

Laba-laba: “Itu omongan musuh, semua hanya kedengkian. Jangan dengarkan itu, jangan pedulikan. Andai kau lihat sarang dan jamuan yang aku siapkan, tentu kamu akan tidak akan keberatan singgah.”

Lalat: “Tidak, aku tak akan mendatangi rumahmu. Aku tahu, kamu akan menghisap darahku. Kamu tidak hanya ingin mengundangku melihat-lihat rumahmu. Tinggalkan aku, jangan sakiti aku.”

Laba-laba: “Dengan akalmu kamu telah menerima omongan-omongan yang benar dari semua makhluk, hingga kamu menjadi seperti orang pandai. O, sayap yang lembut dan bola mata yang berbinar! Mahasuci Tuhanku, betapa banyak nikmat yang diberikan kepadamu.”

Lalat: “Tuan, aku sangat berterima kasih kepadamu. Pujianmu sungguh sangat indah. Terimalah tanganku, perkenankan aku meminta maafmu karena buruk sangkaku telah menyakitimu.”

Laba-laba: "Berikan tanganmu dan aku akan memperdayamu dalam jeratku. Aku akan menyantapmu dengan lahap. Pujianku telah menipumu dan kau termakan olehnya. Karena itu rasakanlah kematian dan kebinasaan.”
Kisah Teladan Laba-laba dan Lalat
Gambar bersumber dari google
Kisah Laba-laba dan Lalat di atas mengajarkan kepada kita semua bahwa jika kita menerima sebuah pujian dari orang yang hendak menguasai kita dengan kejahatan maka hendaklah untuk berwaspada dan jangan sekali-kali terlena dengan pujian tersebut.

Semoga kita semua terlindungi dari orang-orang yang jahat. Amin.

Kisah Teladan Bocah-bocah dan Katak

Di bawah ini adalah kisah teladan dari katak ketika mereka menghadapi gangguan dari bocah-bocah usil. Semoga kisah teladan di bawah ini dapat bermanfaat dan memberikan hikmah kepada kita semua:

Pada hari libur, beberapa bocah pergi ke kebun dan tanah lapang. Bocah-bocah itu berlomba lari dan lompat hingga tenaga mereka terkuras. Mereka lalu duduk-duduk di tepi telaga untuk beristirahat. Mereka mendengar suara katak. Seekor katak terlihat melompat dari satu tempat ke tempat lain dengan gontai. Bocah-bocah pun bersepakat untuk beradu melemparinya dengan batu. Pemenangnya adalah yang berhasil mengenainya.

Kesepakatan itu segera mereka lakukan untuk bersenang-senang tanpa menghiraukan rasa sakit yang dirasakan oleh si katak. Ketika serangan bocah-bocah itu makin sengit, katak-katak berkumpul di tengah telaga.

“Mengapa bocah-bocah itu menyakiti kita. Menimpuki kita dengan batu, padahal kita tidak melakukan kesalahan apa-apa terhadap mereka? Ini jelas kejahatan.” keluh salah satu dari mereka.

“Lalu apa yang dapat kita lakukan? Kita ini lemah. Kita tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk melawan kejahatan orang-orang kejam yang menyerang tempat kita. Jika di antara kita ada yang keluar dan meminta mereka untuk menghentikan gangguan, mereka pasti akan segera melemparinya dengan batu bahkan mungkin membinasakannya. Kita serahkan saja tempat ini kepada mereka dan kita pindah ke tempat lain.” kata yang lain.

Katak yang paling besar akhirnya berkata, “Meksi diterjang bencana, tidak seharusnya penduduk meninggalkan negerinya. Yang harus kita lakukan adalah keluar dan menghadapi orang-orang kejam itu. Atas nama kebenaran dan keadilan, kita minta mereka menghentikan kejahatan mereka. Allah swt. adalah pemimpin kita dan sebaik-baik penolong.”
Kisah Teladan Bocah-bocah dan Katak
Kisah Teladan Bocah-bocah dan Katak
Semua katak bersepakat dengan ucapan katak besar itu. Mereka berenang ke tepi telaga sambil berseru, “Hai orang-orang kejam. Kalian menyakiti kami tanpa alasan. Kami bersaksi kepada Allah swt. dan manusia, bahwa kalian telah zalim kepada kami. Pergi kalian! Lakukan kebaikan dan jangan membuat permusuhan. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan dan melakukan dosa.”

Bocah-bocah itu merasa malu dengan perbuatan mereka. Mereka pun pergi meninggalkan katak-katak tersebut dan pulang dengan perasaan sesal.

Kisah Bocah-bocah dan Katak di atas memiliki hikmah (pelajaran) yang begitu dalam yang dapat kita ambil, sebagai contoh adalah perintah untuk mencintai tanah air. Jikalau negeri atau daerah yang kita tempati mengalami gangguan dari negeri atau daerah lain tanpa ada alasan kesalahan yang dilakukan maka hendaknya kita mempertahankannya dengan syarat untuk tetap berpegang teguh kepada Allah swt. Dan satu hal yang penting juga adalah memperingatkan kepada kita semua bahwa mengganggu orang-orang yang tidak bersalah adalah perbuatan yang sangat tidak terpuji sebab akan merugikan orang lain dan tentu saja Allah swt. akan membalas terhadap apa yang kita lakukan.

Selasa, 25 September 2012

Kisah Teladan Burung Dara dan Semut

Berikut kisah (cerita) tentang Burung Dara dan Semut. Selamat membaca kisah teladan di bawah ini:

Semut kecil pergi ke sungai untuk minum dan beristirahat, setelah lelah mengumpulkan makanan. Namun kaki semut terpeleset dan ia tercebur ke dalam air. Ia tidak bisa keluar sebab tidak bisa berenang. Semut hampir tenggelam.

Saat itu, burung dara yang putih bersih berdiri di atas batu yang ada di air. Ia menyaksikan peristiwa yang dialami semut. Hatinya tersentuh dan ia berusaha menolongnya. Segera ia terbang ke daratan dan kembali. Pada paruhnya terdapat sebatang rumput. Rumput itu ia julurkan ke dalam air dan dihubungkan ke daratan. Semut menangkap rumput itu dan keluar dari air dengan selamat.

Beberapa hari setelah itu, burung dara hinggap di cabang sebuah pohon, berteduh dengan daun-daunnya. Dari kejauhan, seorang pemburu berjalan dan mengetahui keberadaannya. Pemburu itu berhenti, membidikkan senapannya ke arah burung dara untuk menembaknya. Burung dara tidak menyadarinya. Tapi semut yang telah ia selamatkan melihat pemburu itu dan mengetahui niatnya.

Kemudian semut merambat ke tubuh pemburu. Manakala pemburu hampir melepas tembakannya, semut menggigitnya keras-keras hingga membuatnya kaget. Tubuh pemburu itu bergoyang, tembakannya melenceng dan tidak mengenai sasaran. Burung dara selamat dari tembakan pemburu itu, sebagai balasan atas kebaikannya kepada semut. Barang siapa berbuat sebiji zarah kebajikan akan mendapatkan balasannya.
Kisah Teladan Burung Dara dan Semut
Kisah Teladan Burung Dara dan Semut
Kisah (cerita) di atas mengajarkan kepada kita semua untuk melakukan perbuatan baik antar sesama sebab pasti akan ada balasan bagi siapa saja yang melakukan kebaikan dan dengan waktu yang tidak disangka-sangka.

Kisah Teladan Dua Domba

Di bawah ini adalah sebuah kisah (cerita) dari dua domba. Selamat membaca kisah (cerita) berikut ini:

Di jalan yang sempit, dua domba sedang berhadapan. Jalanan itu hanya dapat dilewati oleh satu domba. Sebab, di satu sisi sebuah lereng menjulang tinggi dan di sisi lainnya sebuah jurang menganga. Maka, salah satu domba kemudian merebahkan diri di atas tanah dan domba lainnya berjalan di atas tubuhnya dengan hati-hati dan waspada. Setelah itu domba bangun dan berjalan dengan selamat.

Dua domba lain berada di bibir sungai. Sebuah pohon melintang, menghubungkan dua tepian. Pohon itu seolah menjadi jembatan yang sempit. Kedua domba berjalan dari arah masing-masing ke tengah pohon. Di sana mereka tidak menemukan jalan yang dapat dilewati secara bersamaan. Tidak ada yang sudi mundur dan membiarkan saudaranya lewat. Pertarungan sengit terjadi. Keduanya terlempar ke dalam sungai dan mati karena kekeraskepalaan mereka. Andai saja salah satunya mengalah terhadap yang lain, seperti yang dilakukan domba sebelumnya, tentu mereka tidak akan celaka.
Kisah Teladan Dua Domba
Kisah Teladan Dua Domba
Kisah Dua Domba di atas mengajarkan kepada kita agar dapat saling menghargai antar sesama. Satu hal yang paling penting adalah untuk memiliki sifat mengalah atau 'legowo' antar sesama dan jangan mau menang sendiri.

Semoga kisah (cerita) di atas dapat memberikan pelajaran untuk kita semua dalam menjalani kehidupan sehari-hari.