Minggu, 13 Oktober 2013

Ephemera atau Cinta ?

Saya pernah tertarik dengan seorang perempuan. Bertemu dengannya membuat saya sesak nafas. Malu tidak menentu. Jika berpapasan di jalan saya menghindar. Bila teman menggoda saya menyangkal. Tapi diam-diam saya menikmati. Hingga apabila hari sepi, saya terang-terangan merindukannya dalam hati.

Saya melakukan segala hal agar bisa dekat dengannya: sms, bercanda-canda, mengirim salam, dan kalian tahu lah, hehe. Dan akhirnya dia menangkap sinyal itu. Pertemuan yang sebelumnya hanya terjadi di koridor rahasia, kini terbuka untuk semuanya. Di mana ada dia, di situ ada saya. Seperti saudara kembar layaknya. Tidur malam kembali tak nyenyak. Mimpi bukan menjadi tujuan malam lagi. Karena saya telah menganggap dunia nyata lebih berseri. Bahkan terkadang saat pagi, hp masih tergenggam di jari.

Beberapa minggu berlalu. Ada yang berubah. Semua pertemuan seperti tidak indah lagi. Tidak ada alasan sebenarnya untuk menjawab kenapa. Perasaan di hati tiba-tiba berubah tanpa terkira. Pertemuan semakin jarang. Sms-an semakin membosankan. Orang-orang pun bertanya ada apa gerangan. Sebagian berkata, "mungkin mereka sudah bosan."

Kata 'putus' pun akhirnya keluar, dengan berbagai macam versi. Kita tidak cocok/ kamu gak pernah ngertiin aku/ kita bukan jodoh/ lebih baik kita berteman saja/ aku menganggapmu adikku/ dan berbagai macam versi kalimat putus pun bangkit dari kubur. Tangis pun berderai dari satu pihak yang ingin 'serius'. Sementara nafas lega berhembus dari lain pihak yang ingin 'lepas'. Saya tidak tahu berada di bagian mana.

Ephemera

Saya sebenarnya baru mendengar kata Ephemera beberapa hari lalu. Menurut kamus artinya 'sesuatu yang tidak kekal'. Makna lainnya adalah sesuatu hal yang dicetak dan biasanya tidak diniatkan untuk disimpan. Seperti struk belanja: setelah kita mengambilnya dari kasir, tentu potongan kertas itu akan berakhir di tong sampah.

Walau mungkin kesannya tidak tepat/ nyambung, boleh kan saya menyebut cinta sesaat sebagai ephemera? Seperti cerita saya di awal tadi: cinta timbul dengan kuat, seakan-akan sejati, tapi tiba-tiba hilang pergi seperti tidak pernah ada yang terjadi. Halah.

Mengapa?

Cinta itu aneh. Bahkan tidak ada pujangga yang benar-benar tepat mendefinisikannya. Sebagai manusia, tentu hal yang alamiah jika kitaconnect kala melihat atau bertemu sesuatu yang menarik hati. Katakanlah laki-laki, jika bertemu perempuan yang enak diajak bicara, bisa bercanda, dan menarik pula, maka bisa dipastikan "sinyal wifi-nya" akan mencari "pasword" si perempuan. Ngerinya, saat perempuan memberikan kode dan jaringan menjadi "connected", beberapa saat kemudian si lelaki memilih "disconect". Jaringan pun putus. Si lelaki pergi dengan biasa. Nah giliran si perempuan bingung luar biasa. Halah (berlaku juga sebaliknya, lho!).

Terus?

Lagi-lagi cinta itu aneh. Saya tidak pernah merencanakan untuk bertahan lama dengan dia yang sekarang. Di awal hubungan, saya bahkan berpikir, "Ini seperti yang sudah-sudah. Palingan seminggu." Tapi semua tidak terjadi, entah kenapa, saya merasa dia orangnya. Kalau ada yang tanya tipsnya, saya tidak tahu. Apalagi kalau ditanya alasan saya cinta, saya lebih tidak mengerti. Di awal saya pikir ephemera, ternyata benar-benar cinta.

Saran saya sih, hati-hati saja. Saya sendiri tidak tahu bedanya antara ephemera dan cinta. Di awal-awal hubungan rasanya perasaan itu tidak bisa dibedakan. Dan karena ini adalah persoalan perasaan, jika sudah terlanjur connected, berusahalah untuk bertanggung-jawab (hayooo!). 

Sekarang, adakalanya saya terjerumus, hampir. Entah karena tidak pas kepala atau bagaimana, terkadang saya hampir terjebak ephemera. Tapi tenang, cuma ephemera, sekali lagi ephemera! dan belum terjebak! tapi hampir! Hehehe. Saya sih berharap, kami segera menikah! Hahahahaha. Biar "aku cinta padamu"nya terkesan sah.   

Akhirnya, karena sekarang sudah ada istilah ephemera, di awal-awal hubungan, jika belum yakin cinta, katakanlah:

"Aku ephemera padamu!"

Sekian. Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar